Rabu , 22 Februari 2017, 18:30 WIB

Kriteria Ketat Seorang Dokter di Masa Ustmaniyah

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Agung Sasongko
blogspot.com
Peta Ustmaniyah/Ilustrasi
Peta Ustmaniyah/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak hanya menekankan soal etika, tapi kriteria ketat juga ditetapkan bagi seorang dokter di wilayah Turki Usmani. Pertimbangannya, agar seorang dokter mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Syarat utama yang mesti dimiliki dokter adalah pengalaman dan penguasaan ilmu kedokteran.

Kriteria ini juga berlaku dalam perekrutan dokter untuk rumah sakit di wilayah Turki Usmani pada abad ke-15 dan ke-17. Pengalaman yang harus dimiliki seorang dokter, yakni dalam mendiagnosis penyakit pasien ataupun keberhasilan melakukan perawatan terhadap pasien tersebut.

Jadi, dokter tersebut ahli dalam menentukan keadaan pasien dan memastikan obat serta dosis yang cocok bagi si pasien. Intinya, dokter tersebut selain harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bidangnya. Ia juga harus berpengalaman dalam mempraktikkan ilmunya melalui pengobatan yang dilakukan terhadap pasien.

Rumah Sakit Fatih dan Atik Valide juga mensyaratkan seorang dokter yang akan bergabung, harus memiliki pengetahuan mendalam tentang anatomi. Pengetahuan tentang anatomi memiliki dua makna, yaitu pengetahuan umum tentang tubuh manusia dan pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh hewan.

Sejumlah dokter, seperti Emir Celebi, Omer Sifai, dan Abbas Vesim juga menekankan agar seorang dokter memahami anatomi. Mereka menuliskan tentang hal tersebut dalam karya-karyanya. Bahkan, Semseddin Itaki dalam bukunya, Kitab-i Tesrih-i Ebdan, mengungkapkan pula tujuan lain mengenal anatomi.

Menurut Itak, dengan memahami anatomi, seorang dokter juga memiliki kesempatan untuk lebih memahami ciptaan Allah SWT dan merasakan kebesaran-Nya. Jadi, ungkap dia, memahami anatomi akan menuntun seorang dokter menjadi sosok yang bijak.

Dalam bukunya, Itaki menyatakan pula bahwa seseorang yang tak memiliki pengetahuan tentang anatomi dan astronomi maka akan menjadi orang yang tak produktif. Ia menambahkan, melalui anatomi, seseorang akan dituntun pada peningkatan keimanan karena lebih memahami secara mendalam ciptaan Sang Pencipta.