Mengenal Ash-Shuffah: Cinta Rasulullah dan Sahabat untuk Ahli Shuffah (habis)

Selasa, 03 Januari 2012, 05:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,  Rasulullah SAW dan para sahabat selalu memberi perhatian khusus bagi para ahli Shuffah. Kaum Muslimin di Madinah selalu menjaga, mengawasi, dan mengurus mereka dengan baik. Jika ada salah seorang ahli Shuffah yang sakit, maka Rasululllah pasti menjenguknya.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga selalu menyempatkan diri untuk bersama mereka. Sambil duduk-duduk bersama, Rasulullah menasihati, mengarahkan, mengingatkan, dan menganjurkan mereka agar selalu membaca dan mempelajari Alquran.

Rasulullah pun tak pernah lupa untuk mengingatkan mereka agar selalu berzikir, mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan tak berangan-angan untuk mendapatkan perhiasan dunia. ‘’Bila ada sedekah, Rasulullah mengirimkannya kepada mereka dan tak ada sedikitpun yang dimakan oleh Nabi SAW,’’ ujar Dr Akram Dhiya Al-Umuri dalam Shahih Sirah Nabawiyah.

Jika mendapat hadiah, Rasulullah SAW mengirimkannya kepada mereka dan ikut serta menikmatinya. Ketika mendapat rezeki, Rasulullah mengundang dan menjamu mereka di rumahnya. Nabi SAW tak pernah lali sedikit pun terhadap kondisi para ahli Shuffah.

Ketika Hasan bin Ali – cucu Rasulullah – lahir, beliau meminta agar Fatimah memberi mereka sedekah dengan perak seberat rambut kepala Hasan.  Nabi SAW pernah mengingatkan Fatimah yang meminta seorang pembantu dari tawanan.  Rasulullah bersabda, ‘’Pantaskah aku memberi kalian berdua pembantu dan meninggalkan ahli Shuffah yang kelaparan?’’

Rasulullah SAW lebih memperhatikan nasib para ahli Shuffah yang serbakekurangan dibandingkan permintaan putrinya, Fatimah.  Selain memberi contoh, Rasulullah juga mengajak dan mendorong para sahabat yang mampu untuk membantu para ahli Shuffah.

Para sahabat pun berlomba-lomba mendermakan makanan kepada para ahli Shuffah.  Selepas Isya, para ahli Shuffah diarahkan untuk bersantap malam di rumah-rumah para sahabat dan Rasulullah. Setiap sahabat mendapatkan jatah untuk menjamu mereka.

‘’Barang siapa yang diruhamnya ada makanan yang cukup untuk dua orang hendaklah mengajak orang ketiga untuk ikut makan, kalau cukup bagi empat orang maka hendaklah mengajak orang kelima dan keenam,’’ sabda Rasulullah kepada para sahabat.

Kejadian itu hanya terjadi di awal-awal hijrah. Pada saat Allah telah mencukupi mereka, maka tak perlu lagi  mengajak mereka untuk makan di rumah sahabat. Begitulah indahnya persaudaraan dan persatuan Islam di era Rasulullah SAW.

Redaktur: Heri Ruslan
Anas bin Malik r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. shalat zhuhur dan ashar, maghrib dan isya, dan tidur di hamparan. Kemudian beliau berkendaraan ke Baitullah, lalu thawaf di sana.(HR Bukhari)
Endang Rachmat, Selasa, 3 Januari 2012, 05:43

Sekarang kurang umat Islam Indonesia berjiwa shuffah, melainkan 90 % ahli fulus. Buat partai semau masing-masing hanya untuk mencari jabatan dan uang. Tidak ada yang mau mempersatukan ummat apa yang dikehendaki menurut agama Islam

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...