Ahad , 27 August 2017, 23:25 WIB

Menikmati Dzulhijjah

Red: Irwan Kelana
Republika/Ani Nursalikah
 Kondisi terkini di Arafah, Makkah, Kamis (24/8), menjelang pelaksanaan ibadah wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah 1438 H atau 1 September mendatang.
Kondisi terkini di Arafah, Makkah, Kamis (24/8), menjelang pelaksanaan ibadah wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah 1438 H atau 1 September mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Arifin Ilham

Jumat pertama di bulan Dzulhijjah. SubhanalLah semoga menjadi pemantik semangat mengisi hari-hari indah di bulan amalan penyempurna keberislaman seseorang, ibadah haji. Bulan terpenuhinya berbagai hajat ruhiyah dan spiritualitas. Bulan bertabur berbagai kenikmatan munajat, ibadah dan amal saleh.

Inilah bulan yang hari-harinya disediakan oleh Allah untuk menyisir jalan ketaatan dan kesempatan beramal saleh yang bersifat tahunan. Inilah bulan yang sepuluh hari pertamanya merupakan hari-hari yang sangat mulia dan menebar berkah. Allah ‘Azza wa Jalla bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an al-Karim, “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Aura kemuliaan sepuluh hari ini begitu terasa terutama bagi saudara-saudara kita yang saat ini sedang bersiap lahir batin menuju tempat-tempat dan destinasi penting dalam haji.  Inilah bulan yang membumbung ke langit kalimat-kalimat tauhid, gema talbiyah, tahlil dan tahmid. “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Marwah Dzuhijjah turut mencecap di relung hati seseorang yang sedang berhenti dari hiruk pikuk dunia; mereka yang sedang wuquf di Padang Arafah. Bulan yang di dalamnya ada penentu haji yaitu wuquf di Arafah; bulan yang bagi mereka di luar Arafah sangat dianjurkan puasa. Karena hari itu adalah hari akbar, hari maghfirah, hari turunnya rahmat, hari pembebesan dosa, hari terbukanya langit, hari turunnya para malaikat secara bergelombang, memenuhi Mahsyarnya dunia.
 
"Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dzulhijah bulan untuk musim ketaatan. Orang beriman segera taat karena ada sosok percontohan terbaik mementas di hadapan kita. "Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, Sang Suri Tauladan, berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah.” (HR. Abu Dawud no. 2437 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud no. 2081). Beliau memerintahkan yang mampu di antara umatnya untuk berkurban (Udhhiyyah atau Nahr). Jika tidak, padahal ada keluasan rejeki, maka tempat shalat umat Muhammad tidak diperkenankan untuk didekati.
 
Ala kulli hal, semoga bersama kemuliaan Dzulhijjah kita segera menyosok menjadi pribadi yang berjibaku dalam taat, ikhlas istiqamah dalam ibadah, di antaranya shalat, membaca Alquran, dzikrullah, memperbanyak doa, membantu orang-orang yang kesusahan, dan menyantuni orang miskin. Bukankah di bulan ini dulu, di hadapan 124.000 jamaah haji, Nabi SAW tercinta menyampaikan khutbah penutup risalah penyempurna bagi agama mulia bernama Islam ini; beliau berkhutbah wada’, memberi wejangan penting bagi umat sebelum berpisah.

Wallahu a’lam.