Senin , 12 Desember 2016, 07:44 WIB

Maulid Nabi, Cinta Rasul SAW, dan Peradaban Dunia

Red: Nasih Nasrullah
Republika/Tommy Tamtomo/ca
Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.
Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID,   

 

 Oleh Jazilul Fawaid

Ketua Kornas Nusantara Mengaji

Dosen Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta 


“Dan tak pernah kedua mataku melihat sekalipun
Sosok yang lebih baik dari Engkau
Figur yang lebih tampan dari Engkau 
Yang pernah lahir dari rahim perempuan
Engkau tercipta bebas dari aib 
Seolah Engkau lahir seperti apa yang Engkau inginkan”

Petikan bait syair di atas, adalah gubahan sang pujangga terkemuka yang hidup pada masa Rasulullah SAW yaitu Hasan bin Tsabit. Kekuatan cinta itulah yang menggerakkan hati, muara perasaan serupa cinta, suka, bahagia, dan segala dari seorang Hasan bin Tsabit, untuk menuliskan kalimat demi kalimat yang indah. Tentang Muhammad SAW. 

Segudang syair pernah ditulis secara khusus oleh tokoh yang berasal dari Yaman itu, sebagai bentuk pujian, ekspresi ketakjuban, dan tentu kecintaan yang teramat besar terhadap Baginda Rasul SAW. Dialah satu-satunya tokoh yang bergelar “Syair ar-Rasul”, atau Pujangganya Rasulullah.    

Kecintaan serupa juga lah yang menggetarkan hati paman Rasulullah, Abu Thalib, yang konon meski tak memeluk Islam hingga akhir hayatnya, begitu mengagumi dan memuja Rasulullah. Luapan kebahagian sang paman, membuncah, saat Muhammad, putra saudaranya, Abdullah itu, lahir ke dunia. Abu Thalib, benar-benar bersuka cita ketika Rasul lahir ke dunia. 

Dia bersenandung bahagia, ”Dan putih, langit mendung pun cerah berkat cahaya wajahnya.” Tak hanya itu saja, ekspresi suka cita itu, dia manifestikan dengan berbagi kebahagian  kepada handai tolan, kerabat, dan segenap tetangga, ketika itu dengan menyembelih dua ekor kambing berkualitas super, ya untuk Muhammad SAW!  

Pada abad ke-21, rasa cinta dan kerinduan terhadap sosok Rasul jualah yang menggerakkan sastrawan tersohor Mesir, Ahmad Syauqi, secara khusus menulis kalimat-kalimat indah menggambarkan kecintaannya terhadap sosok Rasulullah. Gubahan-gubahan puisinya itu terkodifikasikan dalam al-Hamaziyah an-Nabawiyyah. Perhatikan bagaimana Ahmad Syauqi, menyanjung dan menghormati peristiwa agung, kelahiran Muhammad SAW :

Sang penunjuk dilahirkan

Alam semestapun bersinar

Bibir zaman tersenyum

Alam ruh dan para malaikat di sekitarnya

Saling berbagi kabar gembira untuk agama dan dunia 

 

Jutaan Muslim di dunia, hari ini, Senin (12/12)  bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1438 H, memeringati kelahiran Muhammad SAW ibn Abdullah, sosok yang oleh Michael H Hart diposisikan pada urutan teratas, dari deretan 100 nama tokoh yang paling berpengaruh di dunia, seperti yang ia tuangkan dalam karyanya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”  

Ada banyak alasan, mengapa Hurt berani mengambil keputusan itu, menyusul kontroversial yang muncul akibat pandangannya tersebut  di tengah-tengah publik internasional. Bagi Hurt, Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang berhasil mengelola dua urusan sekaligus, dunia dan akhirat. Keluhuran pekerti dan keagungan akhlak Rasul, dianggap lebih unggul, dengan beragam karakter dan kekhasannya, yang terepresentasikan dalam risalah Islam.   

Kendati demikian, perlu kita sadari betul, bahwa cinta kita terhadap Muhammad SAW tak cukup dengan retorika belaka. Cinta hanya akan berwujud pepesan kosong, tanpa disertai aksi nyata. Dalam bahasa Imam Syafi’i, bukti kuat kecintaan seseorang itu mesti ditandakan dengan seberapa besar, dan seberapa jauhkah sang pecinta itu, mengikuti segala titah dan apa yang diperintahkan oleh sang kekasih.

Dalam banyak sabdanya, Rasul mengingatkan kepada umatnya, siapapun yang mengaku cinta kepadanya, hendaknya melakukan segala perintah dan menjauhi larangannnya. Cinta kepada Rasul, berarti harus pula ditandai dengan komitmen dan kontinuitas meneladani pribadi dan karakter luhur Rasulullah.  

Pemaknaan yang benar atas rasa cinta terbukti mampu mengantarkan peradaban Islam hingga puncak kejayaannya. Pusat peradaban Islam di Kairo, Baghdad, Damaskus, Andalusia, Turki, dan Asia Tengah pada Abad Pertengahan, menorehkan capaian luar biasa di berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, sains, politik, ekonomi, sastra, seni, dan bidang lainnya. Penyebaran Islam di berbagai belahan dunia mengalami akselesasi luar biasa, dari Afrika sampai Eropa.