Rabu, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 Januari 2018

Rabu, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 Januari 2018

Sabar Menunaikan Haji

Selasa 13 September 2016 05:53 WIB

Red: Agung Sasongko

Haji

Haji

Foto: AP/Hassan Ammar

Oleh: Imron Baehaqi 

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Dalam menghadapi setiap situasi kehidupan, sabar merupakan sifat terpuji yang seharusnya terkontruksi dalam pribadi setiap Muslim. Terlebih, sabar ketika mengerjakan ibadah kepada Allah SWT. Sifat terpuji dalam ibadah ini mendapat penekanan secara khusus dibanding dengan bentuk-bentuk sabar yang lainnya.

Sebagaimana firman-Nya, "Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan hendaklah benar-benar bersabar dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan-Nya?" (QS Maryam [19]: 65).

Kata kerja perintah washthabir dalam ayat di atas mengandung uslub mubalaghah (kata hiperbola) yang berarti "hendaklah benar-benar bersabar" atau "berteguh hatilah" dalam beribadah kepada Allah SWT.

Berkaitan dengan perjalanan ritual manasik haji, maka sudah pasti jamaah haji memerlukan kesabaran ekstra dalam menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Kesabarannya terhitung mulai dari mengumpulkan harta untuk ongkos dan bekal perjalanan ke Baitullah di Kota Makkah. Kemudian persiapan fisik (kesehatan), pengurusan administrasi, dan sabar meninggalkan keluarga, tetangga, dan teman-teman yang dicintai. Termasuk sabar atas pekerjaan dan harta yang ditinggalkannya.

Mempelajari ilmu fikih haji yang meliputi definisi, hukum, rukun, dan wajib haji, persyaratannya, macam-macam zikir atau doanya dan tata cara pelaksanaan manasik haji secara keseluruhan, semuanya menjadi rangkaian persiapan ibadah haji yang memerlukan kesabaran.

Apalagi, pada saat pelaksanaannya, para kandidat haji akan benar-benar diuji kesabarannya. Praktik di lapangan, calon jamaah haji akan menemukan berbagai godaan dan rintangan yang cukup menguras perhatian dan bahkan mengganggu kekhusyukan ibadah haji. Apabila tidak mampu menahan diri atau tidak bersabar menghadapi tantangan tersebut, dikhawatirkan kesucian dan kemuliaan ibadah haji menjadi tidak bermakna, rusak, dan batal.

Ibadah haji sangat kental dengan nilai-nilai tauhid. Ka'bah yang dibangun adalah tempat beribadah kepada Allah, sekaligus mengikhlaskan perbuatan ibadahnya hanya berharap ridha Allah SWT. Allah telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyucikan tempat ini khusus bagi orang-orang yang melakukan tawaf, orang-orang yang berdiri, ruku, dan sujud semata-mata menyembah-Nya. (QS al-Haj [22]: 26).

Wahyu di atas memberikan tuntunan tentang kemurnian tauhid yang ditunjukkan dengan keikhlasan total dalam beribadah hanya kepada Allah SWT. Karena itu, para jamaah haji perlu mempertebal kesabarannya dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji. Terutama, sabar dari segala dorongan yang menimbulkan dirinya terjatuh dalam perbuatan syirik atau menyekutukan Allah.

Sebab, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah dosa paling besar. Dosa yang tidak hanya menyebabkan rusaknya amalan ibadah, tetapi juga mengakibatkan seseorang keluar dari Islam. Termasuk sabar dari sifat riya, yakni menahan diri dari keinginan dan harapan untuk mendapat pujian dari selain Allah ketika hendak melakukan amal ibadah, terutama ibadah haji.

Imam Ibn Rajab pernah menyampaikan kata-kata mutiaranya yang mengandung peringatan penting dan mendalam. Ungkapnya, "Riya hampir tidak terjadi pada seorang Mukmin dalam shalat dan puasanya. Akan tetapi riya terkadang terjadi dalam sedekah wajib, haji, dan perbuatan-perbuatan yang tampak. Perbuatan riya akan menghancurkan amal dan pelakunya berhak mendapatkan murka dan siksa Allah."

Sabar menjaga kemurnian akidah dan adab sebagaimana petunjuk wahyu Allah dan hadis Nabi SAW di atas adalah kunci utama dalam memperoleh esensi tujuan ibadah haji, yakni haji mabrur. Wallahu al-musta'aan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Istana Ini Kini Menjadi Museum

Rabu , 24 Januari 2018, 09:15 WIB