Kamis, 3 Sya'ban 1439 / 19 April 2018

Kamis, 3 Sya'ban 1439 / 19 April 2018

Komersialisasi Dakwah

Jumat 30 Agustus 2013 16:52 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Seorang dai memberikan ceramah agama di masjid.  (ilustrasi)

Seorang dai memberikan ceramah agama di masjid. (ilustrasi)

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arsyad Abrar

Suatu hari seorang sahabat bernama Amr Ibn Qais datang menemui Nabi Muhammad SAW. Ia berbeda dari para sahabat yang lainnya. Ia seorang yang buta. Meskipun demikian, semangat dan keteguhannya dalam mencari kebenaran sangatlah besar.

Kedatangan beliau kali ini adalah dalam rangka mencari ilmu dan hikmah yang bisa ia peroleh dari Nabi. Namun, yang terjadi adalah jauh panggang dari api.

Ia menghampiri Nabi yang sedang berbincang-bincang dengan pembesar Quraisy. Berulang kali, ia mengatakan kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah, berilah aku petunjuk, berilah aku pelajaran, tunjukilah aku tentang suatu hal yang bermanfaat.”

Namun, sedikitpun Nabi tidak menghiraukannya. Malah, Nabi menampilkan raut wajah kekesalan terhadap perilaku sahabat tersebut. Nabi merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan sahabat tersebut. Sebab, pada saat yang sama Nabi sedang melakukan lobi kepada para pembesar Quraisy untuk masuk Islam.

Dengan harapan, jika mereka para pemimpinnya telah masuk Islam, tentu akan lebih mudah mengajak kaumnya ke dalam agama yang mulia ini.

Namun perilaku Nabi itu, tanpa ia sadari, merupakan suatu kekeliruan. Melihat hal tersebut, Allah SWT langsung menegur Nabi  dan mengingatkan, apa yang telah dilakukannya tersebut adalah hal yang salah.

Perilaku Nabi yang mengacuhkan sahabat dengan alasan status dan kepentingan sahabat tersebut, kemudian Allah abadikan dalam Quran Surah Abasa ( [80]: 1-10). Ada beberapa hal penting yang dapat dijadikan pelajaran dari kisah ini.

Pertama, jangan sekali-kali kita merendahkan seseorang berdasarkan status dan keadaannya. Karena, semua manusia adalah sama dalam pandangan Allah. Hanya tingkatan takwa yang membedakan mereka satu dengan yang lainnya.

Begitu juga sebaliknya, kita hendaknya jangan tertipu dengan keadaan zahir seseorang. Meskipun ia orang yang berkecukupan, bergelimang harta, jabatan, memiliki kedudukan terhormat, belum tentu orang tersebut bersedia diajak kerja sama demi kemaslahatan orang banyak.

Kedua, semangat dan ketulusan merupakan standar utama untuk mendapatkan banyak petunjuk dan rahmat Allah. Bukan banyak atau sedikitnya harta yang kita miliki.

Ketiga, kita semua mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dalam berdakwah dan mendapatkan pengajaran agama. Secara tidak langung ayat dan kisah di atas menjadi pengingat bagi kita.

Dalam menyampaikan dakwah, hendaknya tidak terjadi tebang pilih. Karena, dakwah adalah kewajiban, bukan profesi. Lebih tepatnya lagi tidak menjadikan dakwah sebagai sarana mengais rezeki sehingga meninggalkan dakwah kepada dhuafa dan mendahulukan elite dengan harapan memperoleh honor yang lebih besar.

Bila dakwah telah disalahartikan, bagaimana dengan kualitas materi yang akan di dakwahkan. Sungguh, Islam adalah agama kebajikan, ditegakkan dengan dakwah, bukan dengan komersialisasi dakwah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES