Tuesday, 7 Zulqaidah 1435 / 02 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Masjidil Haram

Monday, 25 March 2013, 03:03 WIB
Komentar : 0
 Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10).  (Hassan Ammar/AP)
Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Masjidil Haram memiliki 'aura' yang sangat luar biasa. Jangankan bagi orang yang belum pernah ke Masjidil Haram, yang sudah ke sana saja merasakan rindu yang teramat besar.

Bisa melihat Ka'bah yang selama ini jadi kiblat 'yang tidak kelihatan', sekarang tiba-tiba bisa melihat dengan mata telanjang. Yang tidak diizinkan Allah pun bisa memegang, menyentuh, meraba, kiswah Ka'bah.

Bagi yang sudah pernah ke sana, mungkin ingat pertama kali momentum mulai melihat menara Masjidil Haram dari kejauhan, saat memasuki kota Makkah. Bermandikan cahaya! Rata-rata jamaah umrah, memasuki Makkah, malam hari, dini hari, atau menjelang shubuh.

"Bapak Ibu, Dhuyuufurrohmaan (,para tamu Allah), lihat, Masjidil Haram sudah kelihatan...", begitu kata muthowwif, pembimbing kepada jamaah. Sebagian jamaah yang tertidur, langsung melek.

Sebagiannya berdiri, kemudian bertasbih, bertalbiyah, bershalawat, dan sebagian besarnya akan menangis. Nggak menyangka, sudah sampai di Makkah, dan segera ke Masjidil Haram.

Sejurus kemudian, dalam keadaan berpakaian ihram, pintu Masjidil Haram sudah di depan mata. Warna keramik, lalu lalangnya jamaah umrah, karpet masjidil haram, ornamen-ornamennya, masih bisa kita ingat dengan jelas. Dan kemudian setelah memasuki Masjidil Haram, kita melewati deretan galon air zamzam. Subhaanallaah...

Di tengah Masjidil Haram, Ka'bah berdiri dengan sejuta pesonanya. Kiswah hitam menyelubungi Ka'bah. Berdegup jantung memandangnya.

Terdengar kemudian muthowwif mengucapkan doa ketika melihat Ka'bah, yang bagian sebagian orang doa itu makin membuat air mata tambah berlinang.

Buat jamaah yang belum pernah melihat Ka'bah, masuk kota Suci Makkah, masya Allah, baca atau dengar cerita seperti ini, akan ikut merinding. Air mata pun menetes. Kangen pengen ke sana.

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka Labbaik. Innal hamda, wanni'mata laka wal mulk. La syarika lak. Lautan manusia mengucapkan kalimat talbiyah ini. Allahu Akbar.

Saya doakan semoga saudara semua bisa ikut tawaf. Merasakan berdoa di Multazam. Bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Bisa berdoa di dekat Maqam Ibrahim, dan di tempat-tempat mustajabah.

Perbanyaklah berdoa, bersedekah, dan mintalah sama Allah agar dimudahkan bisa ke sana, apalagi bisa berhaji, menyempurnakan Rukun Islam kelima, bukan hanya untuk umrah.

Yang sudah pernah ke sana, saya doakan bisa ke sana, khususnya di waktu-waktu Ramadhan. Bisa tarawih, tahajud, dan witir di Masjidil Haram. Subhanallah. Ini belum lagi cerita tentang Masjid Nabawi di Kota Rasul, Madinah al Munawwaroh.

Jamaah sekalian. Saat saudara baca ini, kami berada di Dubai, untuk menjemput kedatangan seseorang yang dimuliakan Allah, Syeikh al Ghomidi. Salah seorang Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Kedatangan beliau dalam rangka menghadiri acara Wisuda Akbar IV, di Gelora Bung Karno Senayan, 30 Maret mendatang.

Insya Allah, pada Jumat (29/3),  mudah-mudahan beliau diizinkan Allah menjadi khatib di Masjid Istiqlal. Sehingga jamaah yang rindu dengan Kota Makkah dan Madinah, rindu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bisa merasakan sensasi dan suasana seakan-akan berada di Tanah Suci. Allahu akbar.

Kami mohon doanya dari semuanya, agar perjalanan Syeikh al Ghomidi ke Indonesia, diberi kelancaran, kemudahan, dan Syeikh diberi kesehatan. Juga agar bisa memberkahi bumi Indonesia yang betul-betul lagi butuh rahmat-Nya Allah.


Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi(HR Bukhori-Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar