Jumat, 28 Muharram 1436 / 21 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kejahatan Kemanusiaan

Kamis, 17 Januari 2013, 11:13 WIB
Komentar : 1
actionplan.gc.ca
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: KH Didin Hafidhuddin

Di dalam Alquran dan hadis terdapat berbagai istilah yang pengertiannya jauh lebih luas dari pengertian yang selama ini dipahami.

Misalnya, tijarah (perdagangan) selalu dipahami dengan jual beli atau tukar-menukar komoditas tertentu.

Tetapi, di dalam Alquran Surah ash-Shaff [61] ayat 10 dan 11, yang juga dikatakan tijarah atau perdagangan dalam bentuk lain yang akan menyelamatkan dari azab neraka, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa.

Juga istilah cendekiawan, selama ini selalu dipahami orang yang memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam. Tetapi, di dalam hadis riwayat Abu Dawud, yang dikatakan cendekiawan itu adalah orang yang dengan ilmunya berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Karena itu, walaupun seseorang memiliki gelar akademik yang tinggi, yang menunjukkan kecendekiaannya, tetapi dia tidak pernah rukuk dan sujud, bermunajat dan berdoa kepada Allah, hakikatnya adalah bukan cendekiawan.

Terdapat juga pengertian muflis (orang yang bangkrut), seperti dikemukakan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, bukanlah hanya orang yang merugi di dalam kegiatan usahanya, sehingga semua asetnya habis.

Namun, orang yang melakukan berbagai macam perintah Allah, seperti shalat, puasa, dan zakat, serta dalam waktu yang bersamaan melakukan kejahatan kemanusiaan. Memfitnah orang lain, melakukan pembunuhan karakter, mencaci maki, mengadu domba, mengambil hak orang lain, bahkan tidak segan-segan pula untuk melukai dan membunuhnya.

Jika hal tersebut memang diperlukan untuk mencapai tujuannya, di akhirat nanti, pahala dari kebaikan yang dilakukannya akan diberikan kepada orang yang dianiaya dan dijahatinya, sehingga semua pahalanya habis.

Dan apabila masih banyak orang yang dijahatinya, yang tidak sempat memaafkannya, maka keburukan-keburukan orang yang dijahatinya itu akan ditimpakan kepadanya, sehingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam neraka. Naudzubillah.

Beramal ibadah kepada Allah SWT, harus berbanding lurus dengan kebaikan bagi sesama manusia. Orang yang suka beribadah kepada Allah, tetapi jahat kepada sesama manusia adalah sama buruknya dengan orang yang baik kepada sesama manusia, tetapi tidak mau beribadah kepada Allah SWT.

Karena itu, meskipun dalam suasana hiruk pikuk dan kegaduhan dalam berbagai bidang kehidupan saat ini, seorang Muslim harus tetap istiqamah, berbuat baik kepada Allah, dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Sehingga, hidupnya akan diselamatkan Allah SWT di dunia ini maupun di akhirat nanti. Wallahu a’lam.



(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS:Al Baqarah 197)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Sereh Dapat Dongkrak Performa BBM?
JAKARTA -- Sereh selama ini dikenal sebagai bumbu bahan makanan atau juga diolah sebagai minyak gosok. Ternyata, sereh juga mampu diolah sebagai bio...