Selasa , 30 October 2012, 23:59 WIB

Kurban Terbaik

Red: Chairul Akhmad
Republika/Maspril Aries
Penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha 1433 H (ilustrasi).
Penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha 1433 H (ilustrasi).

Oleh: Khairunnas

Beberapah hari lalu, umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Kurban. Selain haji, pemotongan hewan kurban adalah ibadah pokok pada hari raya ini.

Jutaan hewan kurban akan dipotong sebagai wujud ketakwaan kita kepada Allah SWT. Namun, tidak semua kurban diterima di sisi Allah SWT. Karena, Allah hanya menerima kurban terbaik dan niat ikhlas karena Allah.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan, anak-anak Nabi Adam AS lahir dalam keadaan kembar, laki-laki dan perempuan, hingga berjumlah 20 pasang. Mereka kemudian tumbuh menjadi dewasa. Oleh karena ketika itu tidak ada manusia lain selain Nabi Adam AS dan keluarganya, maka Allah SWT memerintahkan Adam untuk menikahkah anak-anaknya secara silang.

Maka, Nabi Adam menikahkan putra tertuanya, Qabil, dengan kembaran putri keduanya Labuda. Sedangkan putra keduanya, Habil, dinikahkan dengan saudara kembar Qabil yang bernama Iqlima. Namun, Qabil enggan menikah dengan Labuda, dan dia lebih memilih saudara kembarnya sendiri, Iqlima.

Karena terus bersikeras, Adam meminta petunjuk kepada Allah untuk memecahkan persoalan tersebut. Qabil dan Habil disuruh untuk menyerahkan kurban yang diambil dari hasil usaha masing-masing. Bagi yang diterima kurbannya, dialah yang berhak menikah dengan Iqlima.

Disebutkan, Qabil mempunyai usaha peternakan sementara Habil berusaha di bidang pertanian. Sampai pada waktu yang telah ditentukan, masing-masing kemudian menyerahkan kurban mereka. Qabil menyerahkan hewan ternaknya dan Habil menyerahkan hasil pertaniannya.

Namun, Allah SWT ternyata hanya menerima kurban dari hasil pertanian Habil. Akibatnya, Qabil tidak terima dan menuduh bapaknya telah mendoakan Habil agar diterima kurbannya. Kejadian ini menimbulkan kebencian yang mendalam dari Qabil terhadap Habil. Iblis kemudian memanfaatkan kondisi ini untuk membujuk Qabil membunuh Habil, saudaranya sendiri. Maka, terjadilah pembunuhan pertama di muka bumi.

Padahal, tidak diterimanya kurban Qabil bukan karena keberpihakan Adam AS terhadap Habil, melainkan kurban yang diserahkan Habil lebih berkualitas dibanding kurban Qabil. Habil memilih yang terbaik dari hasil pertaniannya. Sementara, Qabil memilih ternak yang paling buruk kualitasnya. Allah SWT Mahabaik dan hanya menerima yang baik-baik pula.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa setiap amalan harus dilakukan dengan cara yang baik dan bersumber dari yang baik pula. Kita harus mendirikan shalat yang terbaik, puasa yang terbaik, zakat dengan harta yang terbaik, dan kurban dengan hewan yang terbaik pula.

Allah SWT adalah Zat yang Mahabaik dan hanya menerima amalan yang terbaik pula. Amalan yang terbaik hanya bisa dilakukan oleh hamba yang terbaik. Sedangkan, hamba yang terbaik di sisi Allah SWT adalah orang-orang yang bertakwa (muttaqin).

Orang yang bertakwa akan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Mereka dijanjikan sebagai penghuni surga. (QS Muhammad : 15). Wallahu a’lam.