Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 / 23 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Berlapang Dada

Senin, 08 Oktober 2012, 21:01 WIB
Komentar : 0
myspace.com
llustrasi
llustrasi

Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail

Kesuksesan seseorang diawali dengan sikap lapang dada menghadapi berbagai tantangan. Orang sempit dada sulit maju karena kekerdilan dan kepicikan jiwa.

Agar sukses dalam membawa misi, Nabi Musa memohon kelapangan dada. Berkata Musa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku.” (QS Thaha [20]: 25).

Sebelum Rasulullah SAW mengemban tugas risalah, beliau juga dilapangkan dadanya terlebih dahulu. “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS Al-Insyirah [94]: 1).

Walau Nabi SAW sudah dilapangkan dadanya, saat menghadapi hinaan kaum Quraisy, masih merasa kesempitan dada. Allah menegaskan, “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS Al-Hijr [15]: 97).

Intimidasi kaum Quraisy ini mendesak Rasulullah untuk meminta perlindungan kerabatnya di Thaif. Namun, saat ke Thaif beliau dilempari batu oleh budak-budak yang dikerahkan oleh para tuan mereka. Saking beratnya penderitaan Nabi saat itu, Allah mengutus Malaikat Jibril dan menawarkan diri untuk menyiksa panduduk Thaif.

Namun, Rasul SAW tak ingin melakukan hal itu. Beliau hanya berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Allah berfirman, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al-Hijr [15]: 98-99).

Berdasarkan ayat di atas, untuk menghadapi berbagai penyebab kesempitan dada, Allah memberikan petunjuk tiga hal. Pertama, memperbanyak zikrullah, bertasbih dengan memuji Allah. Zikrullah adalah penyebab masuk surga. (QS Ali Imran [3]: 133-134). Zikrullah adalah amalan utama untuk menuju surga dan dengan zikrullah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’du [13]: 28).

Abdullah bin Bashar RA meriwayatkan, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pintu kebajikan sangat banyak dan aku tidak bisa melaksanakan semuanya, maka beritahukan kepadaku suatu amalan yang bisa aku selalu pegang tapi tidak terlalu banyak, nanti aku lupa.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu dibasahi dengan zikrullah.” (HR Tirmizi).

Kedua, memperbanyak sujud. Dengan banyak sujud berarti kita banyak menunaikan shalat, khususnya yang wajib ditambah dengan nawafil (sunah). Dan ini adalah sebab masuk surga.

Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami berkata, “Aku menginap di rumah Rasulullah untuk melayani wudhu dan semua kebutuhannya.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah (sesuatu) kepadaku!” Aku berkata, “Aku memohon agar bisa bersamamu di surga.” Beliau bersabda, “Apakah tidak ada yang lain?” Aku menjawab, “Itu saja.” Lalu Beliau bersabda, “Untuk itu, bantulah aku dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim dan Abu Daud).

Ketiga, menjadikan semua aktivitas hidup dalam kerangka ibadah kepada Allah. (QS Al-An’am [6]: 162). Kalau kita memiliki etos hidup seperti ini, kita akan merasa nyaman karena senang bersyukur dan susah bersabar, semua akan berpahala.



“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….”(QS An-Nahl: 91)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar