ANTARA/Yusran Uccang
Menjadi Keluarga Allah
Seorang umat muslim membaca Alquran di Masjid Raya Makassar, Sulsel, Senin (1/8).

Menjadi Keluarga Allah

Rabu, 18 Januari 2012 04:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Dr Abdul Mannan

Diakui atau tidak, era modern telah menggiring sebagian besar umat Islam hanyut dalam kesibukan duniawi. Nyaris waktu 24 jam tersita untuk urusan kerja, bisnis, ataupun beragam kegiatan lainnya. Bahkan, karena begitu sibuknya, tidak sedikit di antara Muslim yang mulai meninggalkan kitab sucinya, Alquran, baik meninggalkannya dalam arti mulai jarang membaca, memahami, menadaburi, maupun meninggalkannya dalam arti tidak lagi begitu antusias untuk menata hidup dengan menerapkan nilai-nilainya.

Alquran tidak lagi menjadi panduan dalam memandang hidup dan kehidupan ini. Akibatnya, sangat jarang atau mungkin sangat langka pada zaman ini kita menemukan seorang Muslim yang ucapan dan perbuatannya benar-benar sesuai dengan kandungan Alquran.

Sebaliknya, cukup banyak umat Islam yang mulai asing dengan kitab sucinya. Padahal, Alquran adalah mukjizat akhir zaman yang dijamin kebenaran dan keautentikannya oleh Allah SWT. Hal ini Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS 15: 9).

Oleh karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan diri jauh dari Alquran. Setidaknya, kecintaan terhadap Alquran harus selalu kita upayakan terjaga dan terpelihara setiap saat, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun.

Sebab, Allah SWT memberikan banyak keutamaan bagi kaum Muslimin yang mau membaca dan menadaburi Alquran. Satu di antara keutamaan membaca Alquran adalah berupa pahala yang besar. “Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS 17: 9).

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran), maka dengannya ia akan mendapat satu kebaikan; satu kebaikan dilipatgandakan menadi sepuluh kali; aku tidak mengatakan alif lam mim adalah satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW menegaskan bahwa mempelajari Alquran itu sangat besar pahalanya. “Hendaklah seorang di antara kamu berangkat setiap hari ke masjid, lalu mempelajari dua ayat dari Kitabullah (Alquran). Itu lebih baik baginya daripada dua ekor unta. Jika bisa tiga (ayat), ya tiga (ayat), hadiah untanya sebanyak jumlah ayat-ayat (yang dipelajari) itu.” (HR Muslim).

Hal ini sudah cukup memberikan satu argumentasi yang sangat kuat bahwa seyogianya umat Islam itu mentradisikan diri untuk selalu membaca Alquran. Sesibuk apa pun, setiap Muslim wajib membaca dan menadaburi Alquran.
Alquran adalah firman Allah SWT. Membacanya akan mendatangkan pahala besar, menadaburinya akan meneguhkan keyakinan, dan mengamalkannya akan mengundang keridaan Allah SWT. Bahkan, Allah SWT akan menjadikan mereka sebagai anggota keluarga-Nya. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Beliau ditanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Rasul SAW menjawab, ‘Mereka adalah ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah, dan orang-orang khusus-Nya.’” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Redaktur: Heri Ruslan


6523 reads

imam, Kamis, 19 Januari 2012, 11:20

mungkin maksudnya orang2 terdekatnya........ krena ktika bahasa arab/asing dialihbahasakan...tidak 100% makna yg dkandung diasalnya dpt dimuat dlm kata salinan.....ahli tafsir yg lbih tahu hal tsb...

Balas
rahumi, Kamis, 19 Januari 2012, 09:50

Iya Mas Cukat dan Mas Mahyar....mungkin ilmu kita yang kurang kali ya...sebenarnya mmg demikian...bukan keluarga seprti keluarga riil----tapi analogi keistimewaanya diibartkan seperti keluarga

Balas
mahyar, Rabu, 18 Januari 2012, 15:41

saya juga begitu, judulnya kurang sregg, dan saya belum pernah mendengar hadits seperti itu... wallahu a'lam

Balas
cukat, Rabu, 18 Januari 2012, 04:38

Kenapa perasaanku gak terlalu enak saat mbaca judulnya ya... setelah dibaca juga di alenia terakhir ternyata juga begitu... weh... kesannya jadi membuat Allah SWT turun derajatnya. jadi kayak Nashara ajah. hmm tapi sudah hadist jhe. Rasul kan gak berkata salah.. wah

1 Balasan
Abu Fathan, Rabu, 18 Januari 2012, 16:08

Mungkin pemahaman anda yg salah krn kurang IQRA, Coba anda belajar di LTQ terdekat dan pelajari fadhail Al-Qur'an. Insya Allah jd mengerti.

Isi Komentar





atau login dengan Mahaka ID Anda