
Oleh : Agustiar Nur Akbar
Kita tentu tidak asing dengan Umar bin Khatab salah satu dari empat khalifah ternama masa sepeninggal Rasulullah SAW. Umar pun terkenal dengan ketegesan dan kelembutan hatinya. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya ada nabi sesudahku maka ia adalah Umar bin Khatab”. (H.R Tirmidzi dan Ahmad)
Dikisahkan pernah suatu ketika Rasulullah SAW mendapati Umar bin Khatab sedang menangis kemudian tertawa hampir bersamaan. Ketika ditanya apa gerangan yang menyebabkannya demikian. Umar bin Khatab menjelaskan bahwa ia teringat keadaan dirinya di masa jahiliyah dulu. Kenapa ia menangis, ia teringat ketika masa jahiliyah ia mengubur anak perempuannya hidup-hidup.
Terbayang olehnya seandainya saja anak perempuannya masih hidup. Ia akan bisa bersama mereka. Dan akan mendapatkan cucu yang banyak dari mereka.
Lantas yang membuatnya tertawa adalah ketika di masa jahiliyah ia terbiasa membuat patung-patung berhala. Terkadang ia membuatnya dari gandum dan manisan.
Akan tetapi ketika ia dilanda lapar atau musim paceklik. Maka ia terpaksa mengambil bagian-bagian patung berhala tersebut kemudian memakannya.Mendengar hal tersebut Rasulullah SAW pun turut tertawa.
Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga. Masa jahiliyah dikenal juga dengan masa kegelapan atau kebodohan.
Dimana akal dan hati nurani tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebut saja dua hal yang mebuat Umar bin Khatab menangis dan tertawa ketika mengingatnya.
Pada masa jahiliyah perempuan tidak mempunyai harga sama sekali. Bahkan memiliki anak perempuan adalah aib yang besar. Karena dianggap tidak berguna, tidak bisa berperang dan tidak bisa mewariskan kejayaan serta kemuliaan. Bahkan perempuan dianggap sesuatu yang bisa diwariskan. Tak ubahnya seperti barang atau benda mati belaka.
Mengubur anak perempuan hidup-hidup sangatlah tidak manusiawi. Itu karenanya bisa disebut tipikal orang jahiliyah adalah tidak mempunya hati nurani. Akal sehat pun seharusnya menolak akan hal ini. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Peristiwa kedua, dimana Umar bin Khatab memakan tuhannya yang ia buat sendiri. Jika akal sehat berfungsi sebagaimana mestinya maka akal akan menolak tuhan yang bisa dibuat dan dimakan. Atau tuhan yang bisa dibuat dan dihancurkan.
Setelah Umar bin Khatab memeluk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah SAW. Ia menyadari akan kebodohan tersebut. Ia menyesalinya ketika dengan bodohnya ia mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Karena itu ia menangis tatkala mengingat peristiwa tersebut. Dan Umar bin Khatab menertawakan kebodohannya. Bagaiamana bisa, dulu ia membuat tuhan yang ia sembah lalu memakannya.
Segala puji bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Agung. Dengan syariat-Nya yang dibawa melalui tangan nabi Muhammad SAW, telah mengeluarkan umat manusia dari kebodohan dan ke-primitif-an. Serta mengajarkan kita untuk menggunakan hati nurani sebagaimana mestinya. Juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang manusiawi. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.
_____________________________________________________________
Anda ingin BERSEDEKAH pengetahuan dan kebaikan? Mari berbagi hikmah dengan pembaca Republika Online. Kirim naskah Anda melalui hikmah@rol.republika.co.id. Rubrik ini adalah dari dan untuk sidang pembaca sekalian.
masih dipertanyakan kebenaran cerita umar bin khotob mengubur anak perempuanya dengan hidup-hidup, cek disini. http://www.jamaahtabligh.tk/benarkah-umar-ibn-khattab-mengubur-anaknya-hidup-hidup/
Balaspada zaman inilah timbul kembali budaya jahiliyah yang melupakan hati nurani, nau'udzubillah min dzalik
BalasInilah kisah dalam Islam yang patut untuk dikoreksi lagi, Jika memang Umar bin Khattab pernah menguburkan anak perempuannya hidup-hidup ketika masih jahiliyah, kenapa Hafsah binti Umar (yang kelak jadi isteri Nabi) tidak dkubur?, padhal Hafsah binti Umar lahir sebelum Muhammad diangkat jadi rasul...
4 Balasannamanya juga hnedri, S.Ag.....Sarjana Agak gmna .....
..... umar kan ngga pernah bilang kalau dia mengubur semua anak perempuannya.
Setau saya, kisah diatas riwayatnya otentik (shahih), jadi tidak ada yg perlu dipertanyakan atau diperdebatkan, cukup diterima dan diyakini kebenarannya. Wallahu a'lam.
Bukan Pak Hendri, Mas Iwan... tapi Pak Hnedri. Ada baiknya yang punya data melengkapinya. Kapan Umar mengubur anak perempuannya? Berapa yang ia kubur? Kapan Hafsah lahir? dst.
Pak Hendri cukup kritis juga. Tapi Pak Hendri
Faisal, S.Ag, kisah tsb tidak menceritakan bahwa Umar bin Khattab telah mengubur hidup2 semua anak perempuannya.Tolong dicerna lagi.
Demikianlah jikalau manusia yg telah mendapat hidayah Allah SWT,Kita juga merindukan pemimpin seperti Rasulullah atau Umar Bin Khatab. yang mampu merubah dunia jahiliyah ke masa yang berperadaban tinggi. Bukan malah sebaliknya. Syariat Allah ayo kita jalankan.
Balascerita yang sangat inspiratif
Balas