Kamis , 07 Februari 2013, 01:15 WIB

Kewajiban yang Terabaikan (Bagian-4, habis)

Red: Damanhuri Zuhri
Republika/Agung Supri
Shalat berjamaah (ilustrasi).
Shalat berjamaah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,-- Apabila Umar al-Faruq mendengar panggilan adzan, seperti dikisahkan Dr Aidh Alqarni dalam bukunya Sentuhan Spiritual Aidh Alqarni, ia mengambil tongkatnya kemudian memukulkannya ke pintu rumah-rumah penduduk.

Umar berkata, ''Musa berkata, 'Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.'' (al-Qashash: 17).

Aid Alqarni berkata, 'Bagaimana mungkin umat yang tidak baik dalam berinteraksi dengan Allah SWT akan menanjak? Bagaimana mungkin umat yang tidak mengagungkan syiar-syiar Allah akan bahagia?

Aid Alqarni bertanya, 'Bagaimana mungkin akan benar dalam peperangan, belajar, berproduksi atau berperadaban sedang mereka tidak berhubungan dengan Allah dalam shalat yang Dia fardhukan?

Para ahlul ilmi mengklaim, orang yang menentang shalat berjamaah sebagai munafik dan jauh dari Allah SWT. Sedang ahli hadits mewajibkan shalat berjamaah dan sebagian di antaranya menjadikannya sebagai salah satu syarat sahnya shalat.

Aid Alqarni bertanya, 'Berapa banyak shalat berjamaah menghabiskan waktu kita? Sedang waktu yang kita sia-siakan untuk makan, minum, tidur, dan bercanda, lebih banyak dari waktu yang digunakan untuk shalat berjamaah.

Dalam shalat berjamaah itu, derajat orang-orang beriman diangkat, sedang derajat pelaku maksiat dan orang-orang munafik akan dimusnahkan.

Dengan shalat berjamaah, dapat dikenali siapa kekasih Allah SWT dan siapa kekasih setan? Dan, dengan shalat berjamaah itu pula dapat dibedakan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang munafik.

Maka, peliharalah shalat ini ketika panggilan mulai berkumandang. Ramaikanlah masjid, berlombalah menuju barisan terdepan.
n