Jumat, 25 Jumadil Akhir 1435 / 25 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Fatwa Qardhawi: Apakah Orang Kafir Kekal di Neraka? (5)

Rabu, 15 Agustus 2012, 13:15 WIB
Komentar : 0
mediaislam.net
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Adapun kenikmatan ahli surga itu pokok dan kesempurnaannya tidak bergantung pada kesinambungan dan kekekalan diazabnya ahli neraka.

Dan seandainya ahli surga itu makhluk yang paling keras hatinya, niscaya hati mereka akan luluh dan iba melihat keadaan musuh-musuhnya yang disiksa demikian lamanya.

Kemaslahatan orang-orang yang celaka itu tidak terletak pada kelanggengan dan terus-menerusnya siksaan yang ditimpakan terhadap mereka, meskipun pada asalnya penyiksaan itu untuk kepentingan mereka.

4. Allah memberitahukan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Sesungguhnya rahmat Allah itu mendahului kemarahan-Nya, dan Dia telah menetapkan sifat rahmat (kasih sayang) pada diri-Nya. Maka sudah tentu rahmat-Nya meliputi orang-orang yang disiksa itu.

Seandainya mereka tetap tinggal di dalam azab tanpa berkesudahan, berarti mereka tidak diliputi oleh rahmat-Nya. Hal ini sangat jelas, dan sudah ditetapkan bahwa rahmat-Nya pasti mencapai apa yang dicapai ilmu-Nya, sebagaimana kata malaikat, “... Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu...” (QS. Al-Mu’min: 7).

Dan Allah telah menamakan diri-Nya dengan Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), dan tidak menamai-Nya dengan “Al-Mu’adzdzib” (Penyiksa) dan Al-Mu’aqib (Penghukum), bahkan Dia menjadikan mengazab dan menghukum itu sebagai perbuatan-Nya.
"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”(QS. Al-Hijr: 49-50).

Masih banyak lagi ayat lain yang di dalamnya Allah memuji sifat pemaaf, pengampun, kasih sayang, penyantun, dan sebagainya; juga menyifati diri-Nya dengan sifat-sifat itu, dan tidak menyanjung diri-Nya dengan Al-Mu’aqib (Pemberi hukuman), Al-Ghadhban (Pemarah), dan Al-Muntaqim (Penyiksa) kecuali dalam membicarakan bilangan Asmaul-Husna, bukan menetapkannya.







Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Fatawa Al-Qardhawi
Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya.(HR Muslim )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jumlah Pengunjung Meningkat, Ancol Terus Berbenah
JAKARTA -- Sebagian besar warga Jakarta kebanyakan habiskan libur panjang keluar kota. Meski begitu, wisata pantai Ibu Kota tak kehilangan pesonannya. Seperti pantai di...