Minggu, 26 Zulqaidah 1435 / 21 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Fatwa Qardhawi: Hukum Berutang dengan Sistem Riba (2-habis)

Senin, 06 Agustus 2012, 07:47 WIB
Komentar : 0
blogspot.com
Riba (ilustrasi).
Riba (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah itu masih ada tiga perkara yang wajib dipelihara: Pertama, bahwa kondisi darurat itu harus benar-benar terwujud dalam kenyataan, bukan sekadar alasan untuk memperbolehkan (menghalalkan) sesuatu yang jelas haram.

Hal ini banyak bukti dan dalilnya menurut para ahli. Hal ini pun dapat ditanyakan kepada pakar ekonomi yang adil, yang tidak mengikuti hawa nafsu, dan tidak menjual akhiratnya untuk dunia.

"... tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Mahamengetahui." (QS. Fathir: 14).

Kedua: semua pintu yang halal sudah tertutup, baik bagi perseorangan maupun bagi pemerintah. Hal itu didapati setelah semua jalan telah dicoba dan diusahakan. Sedangkan pengganti yang dibenarkan syara’ untuk menutup keperluan itu tidak ada.

Selain itu, juga tidak ada jalan keluar dari kondisi darurat beserta tekanannya yang memaksa. Akan tetapi jika ada penggantinya dan terbuka pintu kepada yang halal, maka tidak boleh beilindung kepada yang haram sama sekali.

Ketiga: janganlah sesuatu yang diperbolehkan karena darurat itu dijadikan pokok dan kaidah, tetapi hal itu merupakan pengecualian yang bersifat temporer, yang akan hilang dengan lenyapnya kedaruratan.

Karena itu para ulama menyempurnakan kaidah: “Darurat itu memperbolehkan sesuatu yang (terlarang) dengan kaidah lain sebagai patokan yang berbunyi, apa yang diperbolehkan karena darurat itu diukur dengan kadar kedaruratannya.”

Kaidah ini dirumuskan dari firman Allah, "... barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas. maka tidak ada dosa baginya...” (QS. Al-Baqarah: 173).

Barangsiapa yang melampaui batas darurat, baik waktunya maupun ukurannya, berarti dia sengaja melanggar dan melampaui batas.

Dengan demikian, yang terbaik ialah menempuh jalan secara bertahap yang sudah menjadi sunah Allah di alam semesta dan dalam syara'. Selain itu, hendaklah ia menaiki tangga dari awal setahap demi setahap.

Oleh sebab itu, janganlah ia melompat sekaligus untuk menggapai seluruh anak tangga, karena yang demikian itu kadang-kadang akan menyebabkan kerugian dalam beragama dan ketidakberhasilan dalam kehidupan dunia sekaligus.






Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Fatawa Al-Qardhawi
Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu((QS. An Nisa 4 : 29).)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...