Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1436 / 23 December 2014
find us on : 
  Login |  Register

Inilah Fatwa Syekh Qaradhawi tentang Jual Beli dalam Valuta Asing (2-habis)

Saturday, 04 August 2012, 09:25 WIB
Komentar : 0
dw.de
Syekh Yusuf Al-Qardhawi
Syekh Yusuf Al-Qardhawi

REPUBLIKA.CO.ID, Artinya, jika transaksi antara bank lslam dan Bank Britania itu terjadi misalnya pada hari Senin, 1 Desember, pukul 10.00, maka penyerahan dan penerimaan itu baru terjadi dua hari sesudahnya, yaitu hari Rabu, 3 Desember, pada pukul 10.00.

Apabila bertepatan dengan libur akhir pekan yaitu hari Sabtu dan Ahad menurut kebiasaan mereka, maka serah terima itu baru terjadi setelah emn hari kerja atau setelah 96 jam.

Serah terima itu kadang-kadang terjadi pada waktu itu (setelah terjadi kesepakatan) kadang-kadang setelah satu atau dua jam, bahkan kadang-kadang setelah 40 jam, hanya saja tidak sampai melebihi 48 jam, sebab sesudah 48 jam jual beli tersebut berarti tidak tunai menurut kebiasaan negara bersangkutan.

Bagaimanakah Islam menjawab hal ini? Syekh Yusuf Qardhawi menfatwakan terkait masalah ini, yaitu yang berhubungan dengan investasi sebagian bank Islam dalam jual beli valuta asing.

Menurut prinsip syara’, jual beli mata uang haruslah dilakukan dengan tunai, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW dalam jual beli enam macam benda yang sudah terkenal.

Karena itu, tidak sah akad jual beli mata uang dengan sistem penangguhan, bahkan harus dilakukan secara tunai ketika di tempat transaksi itu.

Hanya saja, yang menjadi kriteria "tunai” adalah menurut kebiasaan masing-masing, dan tunainya sesuatu itu menurut ukurannya sendiri-sendiri. Dalam hal ini, syara’ telah menyerahkan ukuran banyak hal kepada adat kebiasaan manusia, sebagaimana yang dikemukakan Ibnu Qudamah dan lain-lainnya, yang di antaranya adat yaitu emas, perak, beras gandum, padi gandum, kurma, dan garam.

Maka selama yang dimaksud dengan "tunai" menurut adat kebiasaan itu tidak sempurna kecuali menurut cara yang Anda sebutkan itu yang dalam hal ini berbeda dengan jual beli bertangguh, maka makna "tunai" menurut syara’ pun sudah terealisasi.

Dengan demikian, berlakulah padanya hukum-hukum yang berkaitan dengan ketunaian menurut syara’. Namun, meskipun realitas tunai itu juga mengikuti kedaruratan waktu, darurat tetap harus diukur dengan ukurannya. Maka, tidak diperkenankan bagi bank lslam menjual apa yang telah dibelinya kecuali setelah diterimanya terlebih dahulu barang itu menurut kriteria adat kebiasaan yang berlaku.

Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Heri Ruslan
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS:Al Baqarah 197)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Pengoperasian Ponsel Pintar Tanda Disentuh, Tertarik?
WASHINGTON DC -- Sejumlah ponsel kini memberi pilihan memberi perintah kepada smartphone hanya dengan meraba sekitar layar. Dengan kemajuan teknologi, sebentar lagi orang...