Minggu, 26 Zulqaidah 1435 / 21 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Fatwa Qardhawi: Hukum Kampanye di Masjid (1)

Kamis, 02 Agustus 2012, 18:59 WIB
Komentar : 0
Republika/Damanhuri Zuhri
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Ramadhan adalah waktu di mana masjid-masjid diseluruh pelosok negeri penuh dengan mereka yang ingin mencari berkah dan ampunan di bulan suci ini.

Di saat yang bersamaan, kampanye-kampanye partai politik juga sedang panas-panasnya melanda sebagian negeri ini.

Hal ini menimbulkan suatu fenomena tersendiri. Masjid tidak lagi dijadikan sebagai madrasah taklim dengan berbagai khazanah ilmu agama, namun malah melenceng sebagai tempat berkampanyenya partai politik.

Tak jarang ditemui jika para muballigh di bulan yang suci ini menyampaikan dakwahnya dengan nuansa politik. Bolehkah Masjid dijadikan tempat kampanye politik?

Masjid pada zaman Nabi SAW memang sebagai markas dakwah dan kantor pemerintahan. Masjid pada zaman Rasulullah SAW merupakan pusat seluruh kegiatan kaum Muslim.

Maka masjid bukan semata-mata digunakan untuk shalat dan ibadah lainnya, bahkan ia merupakan pusat ibadah, ilmu pengetahuan, peradaban, sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah, dan sebagai tempat untuk ta'aruf (perkenalan).

Di masjid itulah utusan dari berbagai jazirah Arab datang, dan di sana pula Rasulullah SAW menerima utusan-utusan tersebut. Di sana beliau menyampaikan khutbah-khutbah dan pengarahan-pengarahannya mengenai semua masalah kehidupan, baik yang berkenaan dengan masalah ad-Din (agama), sosial, maupun politik.

Semasa hidup Rasulullah SAW, tidak ada pemisahan mengenai apa yang oleh orang sekarang dinamakan dengan ad-din (agama) dan politik. Juga tidak ada tempat lain pada waktu itu untuk urusan politik dan pemecahan permasalahannya selain di masjid, baik apa yang disebut urusan agama maupun urusan dunia.

Oleh sebab itu, masjid pada zaman Nabi SAW merupakan pusat dakwah dan pemerintahan.





Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Fatawa Al-Qardhawi
Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. ((QS.Al-Baqarah [2]:119))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...