Selasa, 2 Syawwal 1435 / 29 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Fatwa Qardhawi: Hukum Kampanye di Masjid (1)

Kamis, 02 Agustus 2012, 18:59 WIB
Komentar : 0
Republika/Damanhuri Zuhri
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Ramadhan adalah waktu di mana masjid-masjid diseluruh pelosok negeri penuh dengan mereka yang ingin mencari berkah dan ampunan di bulan suci ini.

Di saat yang bersamaan, kampanye-kampanye partai politik juga sedang panas-panasnya melanda sebagian negeri ini.

Hal ini menimbulkan suatu fenomena tersendiri. Masjid tidak lagi dijadikan sebagai madrasah taklim dengan berbagai khazanah ilmu agama, namun malah melenceng sebagai tempat berkampanyenya partai politik.

Tak jarang ditemui jika para muballigh di bulan yang suci ini menyampaikan dakwahnya dengan nuansa politik. Bolehkah Masjid dijadikan tempat kampanye politik?

Masjid pada zaman Nabi SAW memang sebagai markas dakwah dan kantor pemerintahan. Masjid pada zaman Rasulullah SAW merupakan pusat seluruh kegiatan kaum Muslim.

Maka masjid bukan semata-mata digunakan untuk shalat dan ibadah lainnya, bahkan ia merupakan pusat ibadah, ilmu pengetahuan, peradaban, sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah, dan sebagai tempat untuk ta'aruf (perkenalan).

Di masjid itulah utusan dari berbagai jazirah Arab datang, dan di sana pula Rasulullah SAW menerima utusan-utusan tersebut. Di sana beliau menyampaikan khutbah-khutbah dan pengarahan-pengarahannya mengenai semua masalah kehidupan, baik yang berkenaan dengan masalah ad-Din (agama), sosial, maupun politik.

Semasa hidup Rasulullah SAW, tidak ada pemisahan mengenai apa yang oleh orang sekarang dinamakan dengan ad-din (agama) dan politik. Juga tidak ada tempat lain pada waktu itu untuk urusan politik dan pemecahan permasalahannya selain di masjid, baik apa yang disebut urusan agama maupun urusan dunia.

Oleh sebab itu, masjid pada zaman Nabi SAW merupakan pusat dakwah dan pemerintahan.





Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Fatawa Al-Qardhawi
Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” ([HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum])
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jadi Khatib Shalat Ied, Teuku Wisnu: Awalnya Saya Mau Mundur
 JAKARTA -- Teuku Wisnu bertindak menjadi Khatib pada Salat Ied di Masjid Lautze, Senin (28/7). Ini merupakan kali pertama Ia melakukannya. Wisnu sendiri sempat...