Wednesday, 22 Zulqaidah 1435 / 17 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Fatwa Qardhawi: Penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal (2-habis)

Saturday, 07 July 2012, 03:45 WIB
Komentar : 16
boston.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Apakah pintu ijtihad dalam hal ini sudah benar-benar tertutup karena hadits syarif menyebutkan, "Berpuasalah kamu karena melihat hilal (tanggal 1 Ramadhan) dan berbukalah (berhari rayalah) karena melihat hilal."

Ataukah karena puasa dan berbuka (ber-Idul Fitri) itu bergantung pada hasil "melihat", bukan dengan hisab? Ataukah dalam masalah ini masih boleh dilakukan ijtihad?

Syariat Islam yang lapang ini memfardhukan puasa pada bulan Qamariyah. Penetapan masuknya bulan ini menggunakan wasilah alami yang mudah dan sederhana bagi semua umat, tidak sulit dan tidak rumit, karena umat (lslam) pada waktu itu merupakan umat yang buta huruf, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghisab.

Wasilah tersebut ialah melihat bulan (tanggal 1) dengan mata kepala. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila terhalang penglihatanmu oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban 30 hari."

Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW menyebut-nyebut bulan Ramadhan lalu bersabda, "Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal (1 Ramadhan) dan janganlah kamu berbuka (berlebaran) sehingga kamu melihat hilal (1 Syawal). Dan jika penglihatanmu tertutup oleh awan, maka kira-kirakanlah bulan itu."

Hal demikian merupakan rahmat bagi umat ini, karena Allah tidak membebani mereka untuk menggunakan hisab, sedangkan mereka (pada waktu itu) belum mengerti hisab dan tidak dapat melakukannya dengan baik.

Kalau mereka dibebani melakukan hisab, sudah barang tentu mereka akan taklid kepada orang lain baik dari kalangan ahli kitab maupun lainnya, yang tidak seagama dengan mereka (Islam).




Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Fatawa Al-Qardhawi
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Atasi Masalah Grafiti, ini Cara Kreatif Washington DC
WASHINGTON --  Kota besar seperti ibukota Amerika Serikat, Washington DC, juga menghadapi masalah graffiti karena semakin banyaknya dinding gedung dan tempat umum yang...