Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Satu Miliar Ringgit untuk Dana Pembangunan Halal Malaysia

Jumat 13 April 2018 05:05 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ani Nursalikah

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak tiba di lokasi pembukaan KTT IORA ke-20 tahun 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (7/3).

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak tiba di lokasi pembukaan KTT IORA ke-20 tahun 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (7/3).

Foto: Antara/Iora Summit 2017/Rosa Panggabean
Alokasi bertujuan merangsang industri halal menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak berencana mengalokasikan 1 miliar ringgit Malaysia (sekitar Rp 3,5 triliun) untuk Dana Pembangunan Halal. Alokasi itu bertujuan merangsang industri halal untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Dilansir di Marketing-Interactive.com pada Kamis (11/4), Najib mengatakan dana tersebut juga bisa digunakan pengusaha Bumiputera yang memainkan peran kunci dalam mendorong industri halal. Alokasi dana itu merupakan bagian dari janji-janji yang tercantum dalam Manifesto Barisan Nasional (BN) untuk Pemilihan Umum ke-14, yang bertemakan Dengan BN, Untuk Bangsa yang Lebih Besar.

Dalam Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2018 (GMTI), Malaysia merupakan tujuan utama untuk pasar perjalanan Muslim global di antara negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Negara lain yang masuk dalam peringkat, antara lain, Singapura, Hong Kong, dan Filipina.

Penilaian itu memberi Malaysia skor 80,6 dari 100 poin yang ada. Uni Emirat Arab dan Indonesia berada di posisi kedua, dengan skor masing-masing 72,8. GMTI 2018 secara resmi diluncurkan di Jakarta. GMTI menegaskan pasar perjalanan Muslim berada di jalur yang sesuai untuk melanjutkan pertumbuhannya mencapai 220 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2020. Diperkirakan, pasar perjalanan Muslim tumbuh hingga 80 miliar dolar AS, hingga mencapai 300 miliar dolar AS pada 2026.

Presiden Mastercard divisi Indonesia, Malaysia, dan Brunei, Safdar Khan mengatakan Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan wisata halal teratas. Ia menyebut, hal itu tak lepas dari dukungan Kementerian Pariwisata Indonesia melalui promosi luar negeri dari kampanye Indonesia Indah serta meningkatnya infrastruktur dan lanskap pariwisata Indonesia.

Sementara itu, Singapura mencetak gol tertinggi (66,2) di antara destinasi non-OIC, diikuti Thailand (56,1), Inggris (53,8), Jepang (51,4) dan Taiwan (49,6). Pada 2017, diperkirakan ada 131 juta kedatangan pengunjung Muslim secara global. Hasil itu naik dari 121 juta pada 2016. Diperkirakan, angka itu terus tumbuh menjadi 156 juta pengunjung pada 2020 yang mewakili 10 persen dari segmen perjalanan.

Menurut peringkat, ada tujuh pendorong utama yang terus membentuk pertumbuhan dari pasar perjalanan halal global, yakni, pertumbuhan populasi Muslim, pertumbuhan kelas menengah/pendapatan sekali pakai, populasi yang lebih muda, meningkatkan akses ke informasi perjalanan, meningkatkan ketersediaan layanan dan fasilitas perjalanan yang ramah Muslim, perjalanan Ramadhan, dan perjalanan bisnis.

Pemeringkatan tersebut mencatat, kelas menengah Muslim terus meningkat di destinasi dengan populasi Muslim yang besar, seperti Malaysia, Indonesia, dan negara-negara Teluk. Perkembangan lain seperti kelas yang tumbuh dari para profesional Muslim yang terampil dari Amerika Utara dan Eropa Barat, serta peningkatan perempuan Muslim perkotaan di seluruh dunia, menyebabkan dampak ekonomi yang lebih kuat dari basis konsumen Muslim yang besar.

Diperkirakan kawasan ASEAN akan menyambut lebih dari 18 juta kedatangan pengunjung Muslim pada 2020, mewakili hampir 15 persen dari kedatangan pengunjung ke wilayah tersebut. CEO CrescentRating dan HalalTrip Fazal Bahardeen mengatakan dampak investasi dan komitmen oleh tujuan global ke pasar wisata Muslim menuai hasil.

"Upaya terpadu dari tujuan seperti Indonesia, Singapura, Jepang, dan Taiwan menggunakan data dan wawasan dari laporan GMTI sebelumnya harus dipuji karena mereka sekarang menutup kesenjangan," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES