Saturday, 4 Zulqaidah 1435 / 30 August 2014
find us on : 
  Login |  Register

Zaman Ke-emasan Kemasan

Wednesday, 06 June 2012, 06:35 WIB
Komentar : 9
Republika/Agung
Jakarta Great Sale
Jakarta Great Sale

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bismillaahirrahmaanirrahiim
,

Istri saya dan Kakak perempuan saya, setali tiga uang. Cocok sekali, dalam istilah sundanya “nurup cupu”. Istri saya biasa dipanggil mommy dan kakak perempuan saya biasa dipanggil Bunda. Jika berbelanja sesuatu mereka selalu menunggu saat ada program bonus atau diskon khusus.

Maklum zaman sekarang di mana-mana program bonus dan diskon selalu ada setiap bulan, dari mulai paket bundling, buy 1 get 1, up to 70%  sampai dengan bonus umrah dan lain sebagainya. Program pun tidak perlu menunggu momen-momen tertentu, seperti saat lebaran atau tahun baru, tapi ada saja program sepertinya setiap bulan adalah season sales (musim belanja).

Seluruh produk dari mulai makanan sampai alat relaksasi dikemas sedemikian rupa agar tampak elok. Awalnya sebuah produk diberi polesan agar tampak menarik, ditambahkan kosmetik agar terlihat cantik dan dibungkus agar tampak apik, namun akhirnya seperti paket 3 in 1, berhadiah langsung, undian tahunan sampai dengan paket wisata dan lain sebagainya.

Sangat sulit pada saat ini dapat menentukan atau mengetahui isi dari sekedar melihat kulitnya. Seperti pada buah-buahan saja contohnya, mungkin dulu buah-buahan tidak pernah “dipaksa” berbohong, karena kalau pada saat ini buah-buahan pun dipaksa untuk matang sebelum waktunya, dikarbit, dipeuyeum (dalam bahasa sunda), diberi formalin, ditambahkan zat kimia, tidak terlalu penting rasanya, yang penting terlihat matang, sedikit manis cukup sudah, layak jual. Instan dan menguntungkan. Masya Allah.

Kemasan ini semacam perhiasan yang membuat tutup menjadi cantik, bungkus menjadi menarik. Namun siapa yang tidak menyukai perhiasan? Dunia ini penuh dengan perhiasan dan dunia sendiri adalah perhiasan.

Begitu banyak manusia yang “mengejar dunia”. Berorientasi hanya pada dunia, seakan-akan akhirat itu tidak exist/ada. Padahal Allah telah menyatakan bahwa kehidupan akhirat itu sebenarnya jauh lebih baik. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’la, 87 : 16-17)

Dalam buku nasihat-nasihat Imam Ghazali Dunia diperumpamakan seperti nenek-nenek jelek yang menutupi wajahnya dan memakai pakaian bagus, indah dan cantik untuk menguji manusia. Jika penutup wajah dan kerudungnya dibuka dan ditarik kain yang dipakainya, maka manusia yang telah mencintainya akan menyesal ketika menyaksikan buruknya rupa dunia.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa pada Hari akhir nanti, dunia akan didatangkan dalam bentuknenek-nenek tua yang jelek, bermata biru, berwajah keriput, dan mempunyai banyak taring. Jika manusia melihatnya, mereka berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari makhluk jelek dan buruk ini.''

Kemudian dikatakan kepada mereka, “Inilah dunia yang karena gara-gara dia kalian saling membenci dan menumpahkan darah tanpa alasan yang benar. Gara-gara dia kalian putuskan tali silaturahim (tali kekeluargaan), dan kalian tertipu oleh perhiasannya.”

Kemudian, nenek-nenek jelek (jelmaan dunia) itu dimasukkan ke neraka. Nenek-nenek jelek itu berkata, “Tuhanku, dimanakah orang-orang yang mencintaiku?”. Maka merekapun (orang-orang yang mencintai dunia) dipanggil dan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Dan banyak lagi ayat yang menjelaskan betapa besarnya kecintaan manusia terhadap dunia. Sebagaimana ayat: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).”(QS. Ali Imran, 3 : 14)

"Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaikp erbuatanya."(QS. Al Kahfi, 18 : 7)

Inilah zaman ke-emasan kemasan. Zaman praktis, zaman all in one, zaman instan, zaman banyak orang tertipu, menipu dan ditipu oleh kemasan. Isi, substansi, kedalaman, proses kematangan perlu diagendakan ulang. Dan kita mestilah berhati-hati.

Karena kita, manusia memang cenderung menyenangi kemasan, perhiasan. Kita pun ingin selalu tampil baik dengan kemasan tentunya, dengan perhiasan, seperti baju dan lainnya. Karena itu sering kali kita diingatkan bahwa sebaik-baiknya pakaian adalah taqwa. (QS. Al A’raaf, 7 : 26).

Dan ketika kita mengemas diri dalam bersolek maupun berdandan. Bacalah do’a “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pula akhlak (budi pekerti)-ku. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustaz Erick Yusuf Pemrakarsa Training iHAQi  (Integrated Human Quotient)       
Twitter: @erickyusuf


Jauhkanlah diri kamu daripada sangka (jahat) karena sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan, (hati)(HR Muttafaq Alaih )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Inter Milan Gasak Stjarnan
MILAN -- Inter Milan tumbangkan Stjarnan dengan skor teak 6-0 dalam play-off second leg Liga Eropa di Stadion San Siro,  Jumat (29/8). Inter yang...