Kamis , 06 August 2015, 06:03 WIB

Fitrah Iman dan Islam (1)

Red: Agung Sasongko
Republika/Rakhmawaty La'lang
Kajian keagamaan merupakan salah satu cara membentengi akidah umat (ilustrasi).
Kajian keagamaan merupakan salah satu cara membentengi akidah umat (ilustrasi).

Oleh: KH Athian Ali

 

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Disadari atau tidak, ternyata sering timbul pertanyaan yang sering mengganggu pikiran kita, bahwa di negeri  kita yang konon penduduknya mayoritas muslim ini ternyata kita dihadapkan pada suatu kondisi yang menyebabkan kita mau tidak mau harus merasakan atau dihadapkan dengan suatu kenyataan betapa sangat jauh terpisah nilai-nilai ajaran Islam dari kehidupan masyarakat yang konon mayoritas Muslim.

Betapa sangat terpisah jauh keterikatan dan keterkaitan kita dengan nilai-nilai Islam yang kita yakini dengan kondisi kenyataan hidup keseharian kita. Kondisi semacam ini tentu saja sangat banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satu di antaranya adalah masalah “Krisis Keimanan” atau “Krisis Aqidah”.

Kini, kita sudah sangat sulit lagi memisahkan batas pemisah antara mu’min dan kafir yang sudah semakin kabur. Batasan Muslim dan bukan Muslim sudah tidak jelas lagi. Akibat dari ini semua bukan hal yang mustahil, paling tidak, mungkin kita pernah men-shalatkan seseorang pada saat dia meninggal dunia, padahal boleh jadi  yang bersangkutan itu di sisi Allah SWT lebih kafir daripada orang kafir itu sendiri. Atau bahkan mungkin lebih iblis daripada iblis itu sendiri.

Permasalahan ini sangat layak dibicarakan karena merupakan hal yang mendasar yakni keimanan sebagai fitrah manusia. Jika kita berbicara tentang keimanan, maka bukan hanya daya pikir yang kita perlukan, tapi daya dzikir pun sangat dibutuhkan. Karena kita tahu bahwa masalah keimanan itu sendiri tiada lain selalu menyangkut dengan sesuatu yang ghaib (QS. Al Baqarah : 3). Sedangkan sesuatu dapat dikatakan gaib itu manakala sesuatu itu tidak bisa direkam indra kita. Di antaranya, tidak bisa dilihat, didengar dan tidak bisa dirasakan. Oleh karenanya, dia tidak bisa diolah oleh akal kita.

Dalam kehidupan ini, kita kenal ada “dua” bentuk pengenalan atau keyakinan kita terhadap sesuatu. Pertama, kita mengenal dan meyakini sesuatu lewat hubungan antara kita dengan sesuatu yang ada di luar diri kita. Contoh, keberadaan benda-benda yang ada di sekeliling kita. Kita menggenal benda-benda tersebut karena terlebih dahulu telah direkam oleh indra kita (dilihat oleh mata) lalu diolah oleh akal, maka mengertilah kita tentang keberadaan benda-benda tersebut.

Tapi kalau kita katakan, kata-kata gunung kepada orang yang hidup di padang pasir yang di sekelililingnya tidak ada gunung, dia sendiri tidak pernah melihat gunung, tidak pernah pula melihat gambar gunung, tidak pernah menonton film yang ada gambar gunungnya, tidak pernah pula mendengar cerita tentang gunung, maka orang tersebut tidak akan pernah mengerti tentang apa itu gunung.

Dalam proses pengenalan ini, paling tidak, ada “tiga” tahapan pengenalan atau keyakinan. Pertama, ilmul yakin, pengenalan atau keyakinan yang didasarkan pada persoalan ilmu atau informasi. Kedua, ‘ainul yakin, yakni pengenalan atau keyakinan yang didasarkan pada penglihatan. Dan, tahap yang ketiga, haqul yakin, yang didasarkan pada pernah merasakannya. (QS. At Takaatsur, 102:5-7).