Senin , 20 July 2015, 18:53 WIB

Shalat di WC, Tantangan Ibadah Para TKW di Hongkong

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko
dompet dhuafa
Idul Fitri di Taman Victoria Hongkong
Idul Fitri di Taman Victoria Hongkong

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hong Kong merupakan salah satu negara tujuan bagi TKW Indonesia. Atas undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hongkong, Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), KH. Athian Ali mendapatkan kesempatan untuk menyimak kehidupan para TKW Hongkong saat Idul Fitri kemarin.

“Warga negara Indonesia yang paling banyak di Hongkong itu memang TKW. Kebanyakan pembantu rumah tangga. Sebagian besar terpusat di Hongkong. Jumlahnya menurut Konsuler Jenderal mencapai 170 ribu orang,” kata Athian Ali kepada ROL, Senin (20/7).

Kiai Athian melanjutkan, secara finansial para TKW di Hongkong mendapatkan gaji lumayan. Gaji mereka standar dengan TKW dari Malaysia, Brunei, dan negara-negara lain.Tapi, menurutnya ada segi lain yang membutuhkan perhatian. Sejumlah TKW mengeluhkan kesulitan mendapat akses ibadah.

Menurut Kiai Athian, peningkatan semangat keislaman sebagian TKW di Hongkong cukup terlihat. Kebanyakan mereka sudah berjilbab. Hanya saja, mereka menghadapi masalah untuk sholat. Majikan menyatakan tidak rela apabila ada dua Tuhan di rumah mereka. Akhirnya, para TKW ini dilarang shalat.

Athian menuturkan, sebagian TKW terpaksa mencuri-curi waktu untuk shalat, tapi itupun sulit. Yang paling bisa membuat mereka tenang adalah berpura-pura masuk WC, kemudian shalat di WC. Kiai Athian menegaskan, memang ini tidak berlaku untuk seluruh majikan. Adapula majikan yang membolehkan, tapi banyak TKW yang ia jumpai menuturkan kisah serupa.

Menurutnya, hal yang sama juga terjadi saat TKW hendak menunaikan ibadah puasa. Ada sebagian majikan yang mengizinkan, tapi ada juga yang melarang dengan alasan takut si pembantu meninggal dunia.

Pasalnya, ungkanya, kalau TKW meninggal dunia, majikan akan berurusan panjang dengan pihak kepolisian. Ada berbagai hambatan yang harus dihadapi kebanyakan TKW di Hongkong yang sudah timbul kesadaran keislamannya. Tapi, mereka terus berusaha menjaga semangat ibadah di tengah berbagai kendala.

“Saya sangat salut, bahkan saya katakan, ibadah kalian ini jauh lebih bernilai di sisi Allah karena untuk sholat saja kalian harus berjuang seperti itu. Sampai harus di WC,” kata Athian. Lebih lanjut, kata dia, para TKW itupun sempat menanyakan tentang sah atau tidaknya sholat di WC saat ia mengisi pengajian di sana.