Tuesday, 25 Ramadhan 1435 / 22 July 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pengamat: Pemilu 2014 Parpol Islam Tamat

Tuesday, 08 September 2009, 07:13 WIB
Komentar : 0
JAKARTA--Pengamat politik LIPI, Prof Syamsudin Haris memprediksi keberadaan parpol Islam akan tamat di pemilu 2014."Peluang PPP, PKB dan parpol Islam lainnya makin kecil bisa lolos ke Senayan, apalagi kalau parliamentary thrashold (PT) dinaikkan menjadi 5 persen," katanya.
Ia mengemukakan itu dalam acara bedah buku "Krisis Ideologi Parpol Islam" karya Dr Arif Mudatsir Mandan, yang juga dihadiri pengamat politik Dr Fachry Aly, Senin.Namun menurut Syamsuddin, bisa saja parpol Islam itu bertahan. Hanya saja, lanjut dia, keberadaan parpol Islam tidak akan jauh berubah dari seperti yang sekarang ini. "Bisa saja bertahan, tapi ya segitu-segitu saja. Di sisi lain, masih bisa dipertahankan hingga pemilu 2014. Asalkan ada evaluasi dan reaktualisasi dari pemimpinnya, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional," tambahnya.
Lebih jauh katanya, Islam bukan lagi hanya milik partai politik Islam. Bahkan PDIP membuat Baitul Muslimin Islam (BMI), Partai Demokrat membentuk Majelis Dzikir.Sehingga perlu ada pendekatan lain yang harus dilakukan parpol Islam untuk mempertahankan posisinya. "PPP ke depan harus lebih inklusif dan moderen serta menjadi partai Islam nasional, yang perjuangannya jangan hanya membentuk negara Islam tetapi negara Pancasila yang Islami," paparnya.
Yang jelas, katanya, masalah PPP dalam dua pemilu lalu adalah tidak semata-mata soal ideologi tetapi juga soal disorientasi. "Saya pikir partai Islam akan tetap dibutuhkan walaupun suaranya tidak akan lebih baik. Ini merupakan tantangan yang tidak mudah bagi partai Islam," ungkapnya.
Sementara itu, Fachry Aly, lebih menyoroti karena PPP tidak punya kemampuan untuk bertahan lagi. Lihat saja, PBB. "P3 hanya mampu menyodorkan ideologi dan kyai. Sedangkan PKS muncul dan mengandalkan ideologi dalam pemilu 2009 yang menurut saya memperoleh prestasi yang cukup berhasil meskipun hasilnya tidak terlalu sesuai dengan harapan PKS sendiri," cetusnya.
Menurutnya, tidak hanya PPP, bahkan perolehan Partai Golkar dan PDIP juga jeblok, jadi rupanya popularitas sebuah partai mengikuti "mass culture" dan tidak terikat pada budaya etnik. SBY mampu memanfaatkan proses "mass culture" ini dengan sangat kreatif. SBY terangkat ketika Taufik Kiemas mengatakan SBY adalah jenderal bintang empat dengan kelakuan anak-anak. Kalau partai Islam mau pemimpinnya maju harus mampu main gitar, tidak menyerang sana-sini, tenang seperti SBY.
Dijelaskannya, parpol-parpol Islam sulit meraih kursi, padahal mayoritas penduduk Indonesia 90 persen adalah muslim.
"Ini buat saya adalah sebuah ironi. Perolehan suara partai-partai Islam kalau dijumlahkan pun hasilnya tidak akan mampu menyaingi perolehan suara partai sekuler seperti Partai Golkar, PDIP atau Partai Demokrat," terangnya.ant/kpo
Harta itu lezat dan manis, siapa yang menerimanya dengan hati bersih, ia akan mendapat berkah dari hartanya tersebut(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Mediasi Gencatan Senjata di Gaza, Tapi AS Tetap Bantu Israel
GAZA -- Dunia internasional mendesak Israel dan Hamas segera menghentikan perang yang telah mengakibatkan ratusan korban sipil, khususnya di Gaza. Amerika...