Selasa, 27 Zulhijjah 1435 / 21 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Siswa Ogah Bayar, Kantin Kejujuran Merugi

Sabtu, 11 Desember 2010, 10:00 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,

PALANGKARAYA--Program kantin kejujuran di sekolah di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang bertujuan membudidayakan sifat jujur sejak usia dini, dinilai kurang berhasil. Ini terbukti dari banyaknya kantin yang merugi.

"Kami mengakui bahwa banyak kantin kejujuran di Kalteng yang tidak berkembang bahkan rugi, khususnya pada sekolah tingkat SMP dan SMA," kata Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalteng M Yusuf, Jumat (10/12).

Menurutnya, hal itu diakibatkan pihak sekolah kurang melakukan pengawasan dan mengingatkan para siswanya, sehingga program yang dibentuk oleh Kejaksaan dan Dinas Pendidikan tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Meski demikian, kantin kejujuran untuk tingkat sekolah dasar bisa dikatakan sangat berhasil karena banyak yang masih bertahan dan sampai saat ini terus berkembang.

Ia menjelaskan, tujuan dari didirikannya kantin kejujuran itu pertama agar mampu menumbuhkan kesadaran hukum, pembangunan moralitas khususnya menanamkan sifat jujur sejak dini.

Kedua, kantin kejujuran diharapkan juga dapat merubah pola pikir dan kesadaran moral terhadap para generasi muda.

Ketiga, untuk membentuk generasi yang berkualitas, jujur, dan bertanggung jawab terhadap perbuatan yang telah dilakukan.

"Karena kantin kejujuran pada tingkat SMP dan SMA kurang membuahkan hasil kami mengharapkan Dinas Pendidikan dan pihak sekolah bisa memperbaiki hal tersebut, sehingga kelak ketika para generasi muda itu ada yang menjadi pejabat mereka tidak melakukan korupsi," ujarnya.

Redaktur : Stevy Maradona
Sumber : Antara
Siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya yang sah adalah ghulul (korupsi)((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Konversi Minyak ke Gas, Bisakah?
JAKARTA -- Konversi minyak ke gas bisa menjadi cara pemerintah untuk mengurangi konsumsi BBM di Indonesia. Pelaksana tugas Direktur Utama Pertamina Muhamad Husen...