Minggu, 2 Muharram 1436 / 26 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Letusan Merapi Dikhawatirkan Berubah Arah

Selasa, 26 Oktober 2010, 04:32 WIB
Komentar : 0
Gunung Merapi, ilustrasi
Gunung Merapi, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Perkembangan aktivitas seismik Gunung Merapi yang mencolok dari saat gunung tersebut dinyatakan berstatus 'siaga' menjadi 'awas' menimbulkan kekhawatiran bahwa tipe letusan akan berbeda dari letusan 2006 atau berubah arah.

"Kekhawatiran itu karena sifat letusan Gunung Merapi adalah eksplosif dan terjadi arah perubahan letusan," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta, Senin (25/10).

Menurut Subandriyo, kekhawatiran tersebut muncul karena perkembangan aktivitas seismik yang ditandai dengan peningkatan gempa multiphase, vulkanik, dan guguran sudah cukup tinggi namun sampai sekarang belum muncul titik api yang menandakan bahwa magma sudah sampai di permukaan. Sementara itu, perubahan arah letusan juga dimungkinkan dari semula ke selatan yaitu masuk ke Kali Gendol menjadi ke arah barat menuju ke Kali Kuning dan Kali Boyong.

Subandriyo mengatakan, deformasi yang cenderung mengarah ke selatan belum bisa menjadi penanda bahwa letusan gunung setinggi 2.980 meter di atas permukaan laut tersebut akan mengarah ke selatan. "Apabila arah letusan tersebut menuju ke Kali Kuning atau Kali Boyong akan menimbulkan banyak kerugian karena di bawah kali tersebut ada sumber daya air, permukiman, dan juga tempat wisata," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sukhyar juga mengatakan, kekhawatiran adanya letusan yang bersifat eksplosif tersebut disebabkan selama 30 tahun terakhir, letusan Merapi selalu ditandai dengan pembentukan kubah lava. "Tetapi sampai sekarang kubah lava itu belum terlihat, padahal parameter kegempaan sudah mengalami kenaikan yang sangat signifikan," katanya.

Berdasarkan data seismik yang terpantau di BPPTK pada Senin hingga pukul 12.00 WIB telah terjadi 148 kali guguran, 395 kali gempa multiphase, 94 kali gempa vulkanik. "Kekhawatiran ini tidak ditujukan untuk menakuti masyarakat tetapi menjadi pengetahuan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan atas seluruh kemungkinan terburuk," kata Sukhyar.

BPPTK telah mengeluarkan rekomendasi agar seluruh pemerintah daerah di sisi selatan-tenggara dan barat daya Merapi untuk segera mengungsikan warganya yang bermukim dengan jarak 10 kilometer (km) dari puncak Merapi, serta menghentikan seluruh aktivitas masyarakat di sejumlah alur sungai seperti Kali Bebeng, Krasak, Bedog, Boyong, Kuning, Gendol dan Woro.

Gunung Merapi dinyatakan berstatus 'waspada' sejak 20 September kemudian naik menjadi 'siaga' pada 21 Oktober, dan sejak Senin (25/10) pukul 06.00 WIB dinyatakan berstatus 'awas'.

Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : antara
Rasulullah SAW bersabda:"Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, yakni shalat subuh dan ashar."( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Doyan Minum Soda Tampak Lebih Tua?
SAN FRANSISCO -- Sebuah studi menemukan minuman bersoda dapat membuat sel-sel tertentu dalam tubuh menua lebih cepat. Peneliti University of California, San Fransisco menyimpulkan...