Thursday, 29 Zulhijjah 1435 / 23 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sultan Kritik Pendidikan yang Tak Bangun Karakter & Etika

Saturday, 26 February 2011, 12:54 WIB
Komentar : 0
Sri Sultan Hamengkubuwono X
Sri Sultan Hamengkubuwono X

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Sri Sultan Hamengku Buwono X mengkritik pola pendidikan di Indonesia. Secara umum pola pendidikan saat ini tidak memberikan ruang bagi siswa untuk bisa menyampaikan pemikiran dengan argumentasi yang matang. Sementara, etika - termasuk dalam berpolitik - harus dibangun sejak dini dengan pembelajaran dan latihan.

"Kampus itu hanya minta orang belajar, jadi pendengar yang baik saja," kata Sultan saat menerima kunjungan jajaran DPP PKS, Jumat (25/2) petang. Para siswa tak pernah dilatih mengeluarkan pikiran dengan argumentasi akademik.

Kalaupun digelar diskusi di sekolah atau kampus, kritik Sultan, yang menjadi moderator apalagi narasumbernya adalah guru atau dosen. "Karena dosen butuh KUM untuk naik pangkat," ujar dia.

Akhirnya, lanjut Sultan, siswa hanya pintar mendengar dan bertanya. Padahal, ujar dia, mengeluarkan pikiran dengan argumentasi yang matang membutuhkan pembelajaran panjang dan banyak.

Pintar saja, tegas Sultan, belum tentu membuat siswa beretika. Sementara seharusnya lembaga pendidikan adalah institusi pembentuk peradaban bangsa. Sayangnya, ulang Sultan, orientasi pendidikan sekarang hanya sekedar lulus cepat dengan sanksi ketat untuk absensi.

Kegiatan organisasi, tambah Sultan, menjadi tak menarik bagi siswa yang dikejar absensi dan lulus cepat itu. "Organisasi itu pembelajaran yang baik. Ketika tidak aktif di kegiatan selain belajar di kampus, tidak akan punya pengalaman ke masyarakat," kecam Sultan.

Sementara, tambah Sultan, etika terkait erat dengan peradaban. "Unggah-ungguh kalau dalam bahasa Jawa," kata dia. Etika bukan sekedar urusan relasi anak muda dengan orang tua, tegas Sultan, tapi juga dalam berelasi dengan orang lain.

Bagaimanapun, imbuh Sultan, kita masih orang Timur. Dalam berpolitik pun harus ada etika. "Keputusan politik itu kesepakatan. Tapi (kenapa justru) sering kali kesepakatan dan konsensus itu dikhianati sendiri ?" Kecam Sultan.

Politik harus dibangun berkarakter, tutur Sultan, yang itikadnya berdasarkan nilai dan keutamaan. "Jangan sampai berbuat sesuatu dengan mengorbankan harga diri yang akan menghilangkan integritas," kata Sultan.

Integritas adalah faktor menentukan dalam segala hal, termasuk politik. "Tanpa integritas, orang tidak akan percaya," tegas Sultan.

Reporter : Palupi Annisa Auliani
Redaktur : Djibril Muhammad
Harta itu lezat dan manis, siapa yang menerimanya dengan hati bersih, ia akan mendapat berkah dari hartanya tersebut(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Kemarau Panjang Akibatkan Turunnya Pasokan Air Jakarta, Ini Solusinya
JAKARTA -- Musim kemarau panjang di indonesia memiliki dampak terhadap penurunan debit air baku. Kepala Divisi Komunikasi dan Pertanggung Jawaban Sosial PT PAM...