JK: Jangan Hakimi Orang dari Pikirannya

Thursday, 17 February 2011, 20:42 WIB
JK: Jangan Hakimi Orang dari Pikirannya
Jusuf Kalla

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla mengingatkan, agar rakyat Indonesia dapat menghormati prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, keberagaman harus dihormati dan jangan memaksakan kehendak apalagi sampai membunuh.

JK berpendapat, agar tidak menghukum orang dari pikirannya, tapi dari tindakannya. "Siapa yang merusak, kembalikan saja ke masalah hukumnya, mereka harus ditindak," jelasnya kepada wartawan, Kamis (17/2) malam.

Dia mengungkapkan, Ahmadiyah sudah 80 tahun di Indonesia, menurut dia keberadaan jamaah itu harus dihargai. Menurut dia, perdebatan keyakinan akan menghabiskan waktu. Oleh karena itu, JK meminta setiap pihak untuk menaati SKB tiga menteri yang ditandatangani Juni 2008 lalu. "SKB masih relevan," tegasnya. Ditegaskannya, jika SKB itu dijalankan dengan benar, maka Indonesia pasti aman.

Mantan Rektor UIN Jakarta, Ayzumardi Azra menuturkan, kedua pihak harusnya dapat menahan diri dan menjauhi kekerasan. Menurut dia, semua pihak harus kembali memahami konteks ajaran Islam yang cinta damai. "Saya berharap semua pihak dapat menertibkan anggotanya, supaya merenungkan makna islam yang damai," tukasnya.

Redaktur: Krisman Purwoko
Reporter: agung budiono
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Baqarah [2]:79)
wien, Friday, 18 February 2011, 10:54

setuju sekali pak jk.. pikiran ucapan dan tindakan bapak kelihatannya selalu jernih bahkan di saat seperti ini..salam hormat

Balas
ayla, Friday, 18 February 2011, 10:46

Pak, keberadaan ahmadiyah yg sdh lama di ind itu krn MUI lalai, pemerintah gak minta MUI utk mendidik ormas2 islam yg ada di ind, agar ulama2 berdakwah ke pelosok2 smbil membgn masy (krj sosial), siaran lbh sering di tv utk tiap kalangan (anak2, remaja, dws), gak kreatif galang dana. Pmrnth gak mikir kesejahteraan raky

Balas
cikal, Friday, 18 February 2011, 10:46

vote tentang ahmadiyah, Republika bias. Tidak berprinsip bhinneka. Atau memang republika mendukung orang ahmadiyah tidak berhak hidup di Indonesia. Al 'Iyadzu billah.

Balas
heryanto, Friday, 18 February 2011, 10:43

wah om jk sudah tercemar virus liberal rupanya, ini bukan masalah pikiran om, tapi keyakinan, ada nabi selain nabi Muhammad berarti bukan islam titik

Balas
kian ni, Friday, 18 February 2011, 10:41

Gemez ya sama statement2 yang begini.....sadar gak sih..sebagai seorang muslim kita wajib menjaga kemurnian ajaran agama...hukum mana yang mau ditegakkan? negara atau agama? memang tidak dengan kekerasan, Islam pun melarang itu.

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...