Jumat, 18 Jumadil Akhir 1435 / 18 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Insiden Ahmadiyah Pelanggaran HAM Berat

Senin, 07 Februari 2011, 12:43 WIB
Komentar : 0
Usman Hamid
Usman Hamid

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Dewan Pengurus Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid mengatakan, insiden kekerasan yang melibatkan jamaah Ahmadiyah dan masyarakat Cikeusik, Pandeglang tergolong pelanggaran HAM berat. Oleh karenanya, perlu ada pengadilan HAM untuk mengadili pelaku kekerasan.

Hal itu disampaikan Usman dalam konferensi pers bersama organisasi-organisasi kemanusiaan di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Senin (7/2). Puluhan aktivis hadir dalam acara itu. Mereka membacakan Pernyataan Bersama yang mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar mengambil langkah tegas.

"Di dalam UU HAM dan pengadilan HAM dinyatakan secara jelas apa saja pelanggaran HAM berat, yakni adanya unsur genosida dan kejahatan kemanusian yang dijelaskan secara rinci," ujar Usman menegaskan. Tindakan menyiksa hingga menyebabkan kematian atas nama agama merupakan pelanggaran HAM berat.

"Itu merupakan pelanggaran HAM berat, bukan pidana tertentu," kata Usman. Alasannya, kekerasan yang menimpa Ahmadiyah ditujukan kepada ras tertentu dan kepercayaan tertentu. Kalau Presiden sungguh-sungguh menghilangkan pelangaran HAM berat, maka perlu ada pengadilan HAM.

Usman mengatakan, pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah itu di dalam pikirannya ada yang membenarkan tindakan itu. "Ini bedanya pelanggaran HAM berat dengan pidana tertentu," katanya. Menurut dia, Surat Keputusan Bersama (SKB) sudah salah dan perlu dicabut.

"SKB hanya mengikat ke dalam, tidak bisa mengikat keluar," katanya. Pembatasan tidak bisa dilakukan oleh SKB, tapi hanya bisa dilakukan pembatasan dengan Undang-Undang. Pembatasan itu perlu dilakukan dengan memprirotaskan keselamatan publik.

Usman juga menyayangkan sikap aparat penegak hukum ketika berlangsungnya aksi kekerasan. Dalam tayangan video yang diperlihat di acara itu, penegak hukum tak berdaya menghadapi massa. "Polisi sebenarnya bisa menggunakan senjata api untuk melindungi warga lain. Jangan takut melanggar HAM, justru kalau polisi membiarkan pelanggaran itu melanggar HAM," katanya.

Hal yang sama disampaikan aktivis Human Right Working Group Choirul Anam. Dia menegaskan bahwa kekerasan yang menimpa Ahmadiyah adalah pelanggaran HAM berat. Anam mendesak adanya tim independen yang kredibel untuk  menangani masalah ini. "Perlu ada tim independen menangani ini," kata Anam.

Reporter : M Ikhsan Shiddieqy
Redaktur : Djibril Muhammad
Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  yamin M Selasa, 15 November 2011, 13:52
@ achmad, ...........anda mengaku pembela islam tapi kenapa komentar ente tidak lemah lebut. anda kan tahu islam itu kesabaran, kedamaian bukan kebencian
  nizha Minggu, 20 Maret 2011, 13:50
kazihaaaannn,,,,,,
  Atru Rabu, 9 Februari 2011, 09:53
Pengikraran adanya nabi setelah Muhammad SAW oleh orang yang mengaku islam adalah Penghinaan Berat bagi keyakinan kaum muslim. Ahmadiah, jadilah agama baru, jangan mengotori Islam!
  chaqim Selasa, 8 Februari 2011, 10:34
owwh..jadi waktu pembataian umat islam..bukan pelanggaran ham??...bodo amat dengan ham kalo begitu..sikat habis siapa saja yg mau menghancurkan islam...
  shah ali Senin, 7 Februari 2011, 17:29
KOMNAS HAM perlu uang yang banyak yak?

  VIDEO TERBARU
Mahathir Kunjungi Mega, Mahathir: Mega Sahabat Lama Saya
JAKARTA -- Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengunjungi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar Nomor 27A, Menteng, Jakarta Pusat (14/4). Berikut video...