Wajarkah Pemerintah Marah Disebut Berbohong?

Minggu, 16 Januari 2011, 04:34 WIB
Wajarkah Pemerintah Marah Disebut Berbohong?
Sidang kabinet, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Profesor Hamdi Muluk menilai wajar jika Pemerintah Indonesia marah karena disebut telah melakukan kebohongan. "Sikap marah itu bisa dimengerti. Tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mau disebut pembohong," kata Hamdi Muluk pada diskusi polemik "Musim Berbohong" di Jakarta, Sabtu (15/1).

Diskusi yang diselenggarakan sebuah radio swasta itu menghadirkan pembicara Pengamat Kebudayaan Radhar Panca Dahana, Aktivis Koalisi Masyarakat dan Pemuda Antikorupsi (Kompak) Ray Rangkuti, Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel Sparingga, dan Psikolog Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk.

Menurut Hamdi Muluk, persoalan bohong merupakan basis integritas dan moralitas seseorang yang juga menyangkut tuduhan terhadap karakter.  Sebenarnya yang dituduh oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama, menurut dia, bukan Presiden Yudhoyono tapi pemerintahannya yang melakukan pembohongan publik.

"Pernyataan kebohongan yang disampaikan tokoh masyarakat dan pemuka agama bukan merujuk pada karakter tapi pada kegagalan dalam memenuhi tuntutan rakyat," katanya.

Pengamat Kebudayaan, Radhar Panca Dahana berkata, "Kebohongan itu bagian dari kehidupan manusia,". Bahkan, kata dia, sebagian peradaban disusun melalui kebohongan, sepeti halnya legenda, fabel, dan idelogi, ada kebohongannya sendiri-sendiri.

Sementara Staf Khusus Presiden Bidang Politik, Daniel Sparingga, mengatakan pernyataan tokoh lintas agama yang menilai Pemerintah melakukan kebohongan bisa berimbaas pada citra yang dibangun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Itu sesuatu yang serius dan perlu disikapi, karena implikasi bisa mempengaruhi integritas Presiden," kata Daniel Sparingga.

Menurut dia, Presiden Yudhoyono tidak ingin pernyataan tokoh lintas agama itu menjadi opini publik dan tidak ingin sangkaan berbohong tidak sampai berkembang.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Ant
Bahwa Rasulullah saw. jika melakukan tawaf di Baitullah sebagai tawaf pertama dalam haji dan umrah, maka beliau berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran dan berjalan biasa sebanyak empat putaran. Lalu beliau melakukan sai antara Shafa dan Marwah. (HR Muslim)
muh, Senin, 17 Januari 2011, 09:55

kejujuran adalah kunci tegaknya hukum. pemeritah jujur rakyat makmur, pemeritah gak jujur rakyat hancur.

Balas
sin, Senin, 17 Januari 2011, 09:51

pemeritah sekarang adalah pemerintah yang penuh dengan,rekayasa terutama dalam penegakan keadilan. saya haya ingin negara ini ditegakan dengan nilai-nilai kejujuran.

Balas
bambang poerwantono, Minggu, 16 Januari 2011, 14:44

dalam dunia demokrasi siapapun boleh mengutrakan pendapat, termasuk tokoh agama, tapi jangan setelah jagonya kalah dalam pilres yl,suaranya suara syirik, dengki, dll....sebaiknya sebagai tokoh agama itu bersuara menjembatani rakyat dgn pemerintah, kalau yg lain sudah tdk didengar. pemerintah sendiri tentunya punya tola

Balas
arief, Minggu, 16 Januari 2011, 14:44

Yang penting bukti.Buktikan kasus century, gayus sampai titik pencerahan. Klo msh ga dapat mafia pajak juga, masyarakat jg nanti menilai apakah masih teteeeeeeeeep saja bohong atau nggak.

Balas
baim, Minggu, 16 Januari 2011, 06:51

waduh merusak pencitraan yang selama ini gue bangun

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...