Sri Sultan: Kasus Kekerasan Atasnama Agama Rapuhkan NKRI

Rabu, 15 September 2010, 04:28 WIB
ANTARA
Sri Sultan: Kasus Kekerasan Atasnama Agama Rapuhkan NKRI
Sri Sultan Hamengku Buwono X

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Kasus penusukan terhadap seorang pendeta yang akan berangkat ibadah merupakan tindakan yang sudah di luar batas . Karena hal itu tindakan pidana yang melanggar KUHP sehingga harus ditangkap dan diadili. ''Jika pelaku kasus tersebut dibiarkan maka sama saja pemerintah gagal dalam melindungi warganya dan telah memberikan andil terhadap rapuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),'' kata Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X pada wartawan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Selasa (14/9).

Menurut Sultan, kasus kekerasan dengan mengatasnamakan Agama dapat menggoyahkan keberadaan NKRI. UUD 45 telah menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia dibangun atas dasar kebhinekaan. ''Maka jika hal itu dilanggar sama saja dengan melakukan tindakan yang merapuhkan keberadaan NKRI itu sendiri. Karena itu Pemerintah dituntut untuk dapat mengaplikasikan dalam bentuk peraturan pelaksanaanya yang memperlakukan dengan adil pada semua pihak."

Menurutnya, semua pelaku tindakan yang dapat mengganggu kebhinekaan maka harus ditindak dengan tegas. Jika tidak ditindak tegas, maka dapat membuka peluang bagi yang lain untuk melakukan hal yang sama dan dapat mengancam NKRI itu sendiri. "Hal itu yang selama ini terjadi,'' ungkap dia.

Ketika ditanya soal masih perlukah Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No 8 dan No 9 Tahun 2006 tentang izin rumah ibadah? Menurut Sultan, hal tergantung pada cara berpikir Kepala Daerah. ''Apakah Kepala Daerah dapat memberikan rasa adil pada semua pihak untuk menyelenggarakan ibadah dengan adanya SKB tersebut, hal ini tergantung pada subjektivitas kepala daerah masing-masing. Karena dengan adanya SKB justru dapat juga digunakan untuk menghalangi satu dua agama dalam menyelenggarakan ibadah dengan tidak memberi izin,'' kata Sultan.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Neni Ridarineni
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Nabi thawaf (di Baitullah ) pada waktu haji wada' di atas unta (beliau. Setiap kali tiba di Rukun ), beliau menyentuh rukun (dalam satu riwayat: berisyarat kepadanya) dengan tongkat yang melengkung pangkalnya (yang ada pada beliau, dan beliau bertakbir )."(HR Bukhari)
Foul, Selasa, 16 November 2010, 15:51

Kata temen saya namanya Noah...Anda cupu...
Fools you!!

Balas
adriyanto utomo, Senin, 20 September 2010, 04:10

semua umat ada potensi ekstrimisnya, karena itu jika umat anda salah, jangan dibela seolah-olah mereka malaikat...

Balas
Anti Pemurtadan, Senin, 20 September 2010, 04:10

@ catur; kampanye nih yeee... kasih terus diagung-agungkan, tapi kalau jadi mayoritas, KASIH (BERI) STIGMA TERORIS dan KASIH (BERI) DISKRIMINASI... ya namanya kasus harus diusut sampai detil, spy ketahuan mana yg salah, mana yg benar... jangan2 catur dan kawan2 takut ya sama hasilnya?

Balas
amanda, Jumat, 17 September 2010, 05:10

Irfan: selama milih judul&muat kalimat kek diatas,ga mungkin republika fair, kan justru republika &media khusus islam lain tuh kan yang rajin bengkok begini, termasuk artikel si RIzieq ngebual soal "tertusuk"...ga siap dikritik ngerasa ditindas, tapi dibalik cara ngomongnya...apal di luar kepala....

Balas
irfan, Kamis, 16 September 2010, 21:56

Republika harus bisa mewartakan dengan seadil-adilnya peristiwa ini. Jangan seperti media massa lain yang berlaku standar ganda dan memanipulasi opini publik. Pemimpin juga harus jujur, jangan karena merasa ga enak kemudian akar penyebab konflik dilupakan. Itu juga kalau mereka mau jujur dengan kenyataan yang ada.

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...