Senin, 21 Jumadil Akhir 1435 / 21 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Malaysia Lebih Membutuhkan Indonesia

Selasa, 31 Agustus 2010, 09:01 WIB
Komentar : 0
Demo anti Malaysia, ilustrasi
Demo anti Malaysia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Direktur Eksekutif Cides, Umar Juoro, mengatakan Malaysia lebih membutuhkan Indonesia dalam bidang ekonomi. ''Bila dilihat dari sisi ekonomi saja, mereka justru lebih butuh Indonesia, ini karena skala ekonomi kita yang besar, penduduk yang banyak,'' katanya di Jakarta, Senin (30/8).

Ia menepis anggapan bahwa selama ini Indonesia lebih membutuhkan Malaysia di bidang perekonomian. ''Perekonomian kita besar, dengan populasi yang besar dan dalam kondisi sedang tumbuh, membuat kita lebih dibutuhkan Malaysia yang saat ini pertumbuhannya mungkin sudah mulai lamban,'' jelasnya.

Selain itu, menurut dia, ada anggapan yang salah terkait dengan isu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia mengatakan, selama ini isu TKI seolah hanya menjadi bagian dari pemerintah Indonesia. ''Padahal TKI itu sebenarnya kebutuhan Malaysia dalam menggerakkan roda perekonomiannya. TKI itu lebih untuk menyuplai tenaga kerja yang selama ini tidak banyak dimiliki oleh Malaysia, jadi tidak perlu takut,'' tegasnya.

Ia meyakini, pemerintah Malaysia tidak akan menutup pintu TKI karena ini merupakan kebutuhan dalam perekonomian negeri jiran tersebut. ''Kalau mereka tidak mendapat suplai tenaga kerja, mereka yang rugi, siapa yang akan membangun gedung-gedung mereka, memungut kelapa sawit mereka,'' katanya.

Peneliti Eksekutif CIDES, Zainuddin Djafar, mengatakan isu TKI sebenarnya tidak perlu membuat Indonesia lemah dalam berdiplomasi. Begitu pula dengan isu-isu ekonomi lainnya. ''Soal TKI, investasi dan lain-lain yang membuat Malaysia superior dari kita, tidak bisa menjadi pertimbangan yang membuat kita lemah terhadap Malaysia,'' ujarnya.

Ia menambahkan, ke depan, Setiap insiden perbatasan tidak bisa lagi dibiarkan. ''Harus diperjuangkan hal-hal apa yang menjadi hak Indonesia. Kita harus mempunyai satu komando dan otoritas yang jelas, misalnya siapa komandannya dan tindakan apa yang harus segera dilakukan di wilayah perbatasan atas setiap insiden,'' katanya.

Reporter : Antara
Redaktur : Budi Raharjo
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS:Al Baqarah 197)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  ABdul Rahim Senin, 4 Oktober 2010, 16:56
Yang kebutuhan pekerjaan bukan dari Indonesia aja. Ada jutaan jiwa tu dari China, Bangladesh, Philippines, belum lagi dari Lati America yang mahu kerja. Satu waktu dulu, banyak gedung2 di SIngapore di bangunin TKI tapi sejak 10 tahun dulu udah gak ada. Bangunan tinggi masih tetep naik, ada tenaga kerja dari India, Chin
  KP3KN Kamis, 2 September 2010, 22:40
Sudah pasti malaingsia sangat membutuhkan Indonesia, tinggal Pemerintahnya aja penakut, Tarik TKI semuanya perekonomian malasya pasti lumpuh siapa yang mau kerja. TKI kita aja yg bodoh jadi kuli, pembantu hrs ke-malasia sudah dianggap kayak binatang masih tetap bertahan disana, pemerintahnya juga penakut, Para budak2 m
  Dimas Selasa, 31 Agustus 2010, 23:06
Indonesia bisa lbh maju dalam sgala hal di banding dgn Malayasia,asalkan pemerintahnya ada kemauan.
  d. syahruddin Selasa, 31 Agustus 2010, 11:47
secara umum para pemimpin kita sudah kehilangan patriotisme sehingga setiap kesalahan tetangga selalu dihitung dengan untung rugi dari sisi ekonomi sehingga kita selalu dilecehkan
  yandri Selasa, 31 Agustus 2010, 07:20
untuk cesar, karena pemerintahan kita belum dapat memberantas korupsi sampai keakar-akarnya. Izin investasi di sini tidak bagus. TDL akan naik lagi tahun depan. Visi pemimpin pemerintahan yang tidak melihat masyarakat yang harus ditolong tetapi bagaimana memperkaya dirinya sendiri.

  VIDEO TERBARU
Fitur Kamera Jadi Pertimbangan Memilih Ponsel Pintar
AKARTA-- Fitur kamera yang tinggi menjadi salah satu pertimbangan seseorang memilih ponsel pintar. Untuk itu, Acer Liquid E3 menjadikan kamera sebagai salah satu...