Selasa, 3 Safar 1436 / 25 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Malaysia Lebih Membutuhkan Indonesia

Selasa, 31 Agustus 2010, 09:01 WIB
Komentar : 0
Demo anti Malaysia, ilustrasi
Demo anti Malaysia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Direktur Eksekutif Cides, Umar Juoro, mengatakan Malaysia lebih membutuhkan Indonesia dalam bidang ekonomi. ''Bila dilihat dari sisi ekonomi saja, mereka justru lebih butuh Indonesia, ini karena skala ekonomi kita yang besar, penduduk yang banyak,'' katanya di Jakarta, Senin (30/8).

Ia menepis anggapan bahwa selama ini Indonesia lebih membutuhkan Malaysia di bidang perekonomian. ''Perekonomian kita besar, dengan populasi yang besar dan dalam kondisi sedang tumbuh, membuat kita lebih dibutuhkan Malaysia yang saat ini pertumbuhannya mungkin sudah mulai lamban,'' jelasnya.

Selain itu, menurut dia, ada anggapan yang salah terkait dengan isu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia mengatakan, selama ini isu TKI seolah hanya menjadi bagian dari pemerintah Indonesia. ''Padahal TKI itu sebenarnya kebutuhan Malaysia dalam menggerakkan roda perekonomiannya. TKI itu lebih untuk menyuplai tenaga kerja yang selama ini tidak banyak dimiliki oleh Malaysia, jadi tidak perlu takut,'' tegasnya.

Ia meyakini, pemerintah Malaysia tidak akan menutup pintu TKI karena ini merupakan kebutuhan dalam perekonomian negeri jiran tersebut. ''Kalau mereka tidak mendapat suplai tenaga kerja, mereka yang rugi, siapa yang akan membangun gedung-gedung mereka, memungut kelapa sawit mereka,'' katanya.

Peneliti Eksekutif CIDES, Zainuddin Djafar, mengatakan isu TKI sebenarnya tidak perlu membuat Indonesia lemah dalam berdiplomasi. Begitu pula dengan isu-isu ekonomi lainnya. ''Soal TKI, investasi dan lain-lain yang membuat Malaysia superior dari kita, tidak bisa menjadi pertimbangan yang membuat kita lemah terhadap Malaysia,'' ujarnya.

Ia menambahkan, ke depan, Setiap insiden perbatasan tidak bisa lagi dibiarkan. ''Harus diperjuangkan hal-hal apa yang menjadi hak Indonesia. Kita harus mempunyai satu komando dan otoritas yang jelas, misalnya siapa komandannya dan tindakan apa yang harus segera dilakukan di wilayah perbatasan atas setiap insiden,'' katanya.

Reporter : Antara
Redaktur : Budi Raharjo
Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Baru 10 Persen Tergarap, Wisata Lombok Masih Kalah Dari Bali
JAKARTA -- Lombok memang sudah menjadi destinasi wisata tersohor di Indonesia. Akan tetapi Lombok masih kalah tenar dengan tempat wisata yang ada di...