Hari Antikorupsi 2009 Terasa Antiklimaks

Rabu, 09 Desember 2009 20:22 WIB
JAKARTA--Ada nuansa yang berbeda pada perayaan Hari Antikorupsi se-dunia 2009. Di tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari antikorupsi kerap diselingi acara resmi pemerintah, kali ini tidak. Yang merayakan pada 9 Desember 2009 adalah masyarakat luas, di ibukota dengan melakukan demonstrasi damai.

Bila dirunut ke belakang, banyak hal menarik terjadi di perayaan hari antikorupsi ini. Pada 9 Desember 2004, misalnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Keputusan Presiden tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. SBY waktu itu baru dua bulan menjabat sebagai Presiden.

Setahun kemudian, di 9 Desember 2005 tidak ada acara perayaan resmi hari antikorupsi. Namun hari itu berdekatan dengan sejumlah peristiwa, seperti kasus tewasnya 55 penduduk Kabupaten Yahukimo akibat kelaparan, dan baru saja pergantian kabinet (reshuffle).

Pada 9 Desember 2006 peringatannya difokuskan di Gelora Bung Karno. Komisi Pemberantasan Korupsi menggandeng ribuan mahasiswa dari sejumlah universitas negeri dan swasta. Tepat satu tahun kemudian, SBY memperingati hari antikorupsi dengan pidato di Bali, karena berbarengan dengan Konferensi Iklim dan Pemanasan Global se-Dunia.

Baru pada 9 Desember 2008, Presiden SBY dan Wapres Jufuf Kalla merayakan hari antikorupsi di Lapangan Monas. Saat itu Jaksa Agung Hendarman Supandji memaparkan kebijakan-kebijakan antikorupsi sedunia dan meresmikan sejumlah kantin kejujuran di sekolah menengah atas di berbagai wilayah.

Tahun ini, cukup berbeda, karena ada gerakan masif dari elemen masyarakat. Peringatan hari antikorupsi tidak lagi monopoli pemerintah, tapi melibatkan langsung masyarakat dengan demonstrasi besar-besaran.

Tapi bila dilihat dari pencapaian antikorupsi, tahun ini bisa dibilang lebih terbelakang dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi Presiden SBY baru saja menjabat untuk periode kedua kali.

Bila di periode pertama ia langsung menggebrak dengan Keppres Percepatan Pemberantasan Korupsi. Namun kali ini kebalikannya. SBY tersandung kasus lumayan sengit, yaitu kriminalisasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Dua kasus ini menghiasi perjalanan dua bulan SBY berkuasa kembali. Terasa antiklimaks.  evy /taq
Redaktur:


583 reads

djokosoeprapto, Jumat, 5 Mei 1905, 18:35

Berilah kesempatan buat SBY untuk bekerja

Balas
dian putri, Jumat, 5 Mei 1905, 18:35

sangat bagussssssssssss

Balas
yakub londong, Jumat, 5 Mei 1905, 18:35

berantas korupsi juga harus sampai ke daerah, dikalbar banyak pejabat yang korupsi

Balas
yakub londong, Jumat, 5 Mei 1905, 18:35

berantas korupsi juga harus sampai ke daerah, dikalbar banyak pejabat yang korupsi

Balas
ratu m, Jumat, 5 Mei 1905, 18:35

peringatan hari korupsi mesti menyadarkan smua orang untuk berlaku jujur terhadap diri sendiri dan sesama dalam segala lini, di dasarkan takut akan TUHAN

Balas
Isi Komentar





atau login dengan Mahaka ID Anda