Kembalikan Baliku Bergema di Denpasar
Rabu, 26 Agustus 2009 08:35 WIB
DENPASAR -- "Oooo, kembalikan Bali padaku. O..oa eo, kembalikan Baliku padaku. Kembali, Bali kembali..."
Demikian bait lagu "Kembalikan Baliku Padaku" ciptaan Guruh Soekarnoputra yang dilantunkan penyanyi Jopie Latul.
Lagu yang menyeruak populer di tahun 1985-an itu, kini kembali terdengar nyaring di Denpasar, Bali. Bedanya, yang dulu dibawakan artis kawakan, kali ini tidak lebih dari pelantun irama jalanan yang tampil dalam aksi unjuk rasa.
Demo mengecam Malaysia yang dinilai telah mengklaim Tari Pendet sebagai miliknya, membahana muncul sepanjang Selasa (25/8) di sejumlah pojok, perkantoran dan institusi yang ada di ibukota Pulau Dewata itu. Ratusan warga yang menamakan diri Aliansi Hindu Muda Indonesia, menggelar spanduk dan poster yang mengutuk tindakan Malaysia yang dinilai telah berbuat gegabah.
Dengan membentangkan spanduk dan mengacung-acungkan poster di persimpangan Catuk Muka Denpasar, mereka sempat membuat arus lalulintas bergerak tersendat-sendat di kawasan itu. Usai berorasi, para demontran melakukan "long march" ke sejumlah jalan protokol di pusat Kota Denpasar sembari menyanyikan lagu "Kembalikan Baliku".
Tidak hanya di pusat kota, namun di seputaran perkantoran gubernur dan gedung DPRD Bali di kawasan Renon, Denpasar, juga dibanjiri para pengunjuk rasa. Unjuk rasa di daerah itu dilakukan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Persatuan Alumni GMNI Bali. Sembari membawa spanduk "Kembalikan Baliku", mereka mendatangi gedung DPRD Bali untuk menyampaikan aspirasi terkait Tari Pendet yang telah dijadikan iklan promosi pariwisata Malaysia.
Organisasi tersebut dipimpin Ketua Persatuan Alumni GMNI Bali, I Dewa Ketut Wiarsa Rakasandi, selanjutnya diterima Ketua Komisi I DPRD Bali, Made Arjaya. Di hadapan wakil rakyat, Wiarsa Rakasandi mengatakan, Malaysia telah melakukan arogansi dan mengklaim sejumlah kebudayaan Indonesia sebagai miliknya, antara lain lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, alat musik angklung, kerajinan batik, keris pusaka khas Indonesia, dan kini yang terakhir Tari Pendet.
"Kami berharap Pemerintah Indonesia bersikap tegas terhadap ulah Malaysia yang telah menggunakan unsur kebudayaan Indonesia untuk kepentingan promosi wisata di negeri jiran itu," katanya.
Ia mengatakan, saat tarik ulur klaim lagu Rasa Sayange menyeruak dua tahun lalu, Malaysia telah membuat kesepakatan untuk senantiasa berdialog dengan Indonesia mengenai kebudayaan, apabila suatu unsur budaya kedua negara akan dipakai untuk ikon pariwisata atau kepentingan tertentu.
Namun nyatanya, Malaysia begitu arogan dan tanpa tedeng aling-aling telah "mencaplok" Tari Pendek untuk kepentingan iklan "Visit Malaysia Year" yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi, katanya.
Wiarsa Rakasandi mengatakan, Indonesia sebagai bangsa berdaulat, sudah saatnya mampu menunjukkan sikap tegas kepada dunia internasional. "Siapa pun yang mengusik kebudayaan Indonesia harus dilawan," ucapnya menandaskan.
Masih pada siang hari itu, puluhan demonstran yang tergabung dalam Komunitas Seniman Bali juga menggelar aksi protes di Taman Budaya Denpasar. Tidak jauh dari tempat itu, sedikitnya seratus mahasiswa dan staf pengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar juga menggelar aksi serupa di halaman kampusnya.
Senandung lagu "Kembalikan Baliku" yang didendangkan di kampus seni tersebut, terdengar cukup berbeda dibandingkan dengan yang dinyanyikan pengunjuk rasa di jalanan.
Dengan iringan musik kolaborasi petantonis dan diatonis, lagu "Kembalikan Baliku" nyaris sempurna diperdengarkan oleh paduan suara ISI, meski tampaknya mereka muncul secara dadakan. "Sebagai insan seni kami tidak bisa tinggal diam. Ini adalah bentuk protes terhadap Malaysia dan sekaligus mendukung langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dalam menyikapi tindakan negeri jiran yang tidak terpuji itu," kata Ketut Gede Agus Adi Saputra, koordinator lapangan aksi.
Mereka juga tampak membentangkan spanduk bertuliskan "Kembalikan Baliku", "Kembalikan Tariku", serta bentuk kecaman lain terhadap tindak arogansi Malaysia. Hadir di tengah pengunjuk rasa, Gurubesar ISI Denpasar Prof Dr Wayan Dibia MA.
Wayan Dibia mengatakan, tindakan yang mengambil seni budaya Indonesia itu merupakan pelanggaran hukum. Karena itu, Malaysia harus segera meminta maaf secara resmi kepada Indonesia. "Apabila Pemerintah Malaysia meminta izin kepada Pemerintah Indonesia untuk menggunakan seni budaya tersebut, tidak akan jadi masalah. Tapi dalam kasus ini, hal tersebut tidak dilakukan," ucapnya dengan nada tinggi.
Sementara Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan, masyarakat dunia mengetahui bahwa Tari Pendet atau tari selamat datang itu merupakan warisan seni budaya Bali, bukan milik bangsa lain. Mengingat hal tersebut, Malaysia tampaknya cukup tebal muka untuk berani-berani mengklaim Tari Pendet sebagai miliknya.
"Malaysia lewat siaran iklan 'Visit Malaysia Year' terkesan mengklaim Tari Pendet, sebuah karya seni yang biasa disuguhkan masyarakat Pulau Dewata saat menerima kehadiran tamu-tamu penting di daerah ini," kata Gubernur Pastika.
Ia mengatakan, atas nama masyarakat Bali dia sangat keberatan terhadap penanyangan iklan "Visit Malaysia Year" lewat televisi yang dapat diterima di berbagai negara. "Atas keberatan itu, kami telah melayangkan surat kepada pemerintah pusat supaya menindaklanjuti, karena permasalahan itu menyangkut hubungan antarnegara," ujar Gubernur Pastika.
Pastika berharap, pemerintah pusat lewat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata maupun Menteri Luar Negeri dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, apa yang didengungkan banyak orang tentang "Kembalikan Baliku", senantiasa benar-benar kembali seperti sedia kala, kata gubernur yang mantan Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN) itu. ant/ism
Demikian bait lagu "Kembalikan Baliku Padaku" ciptaan Guruh Soekarnoputra yang dilantunkan penyanyi Jopie Latul.
Lagu yang menyeruak populer di tahun 1985-an itu, kini kembali terdengar nyaring di Denpasar, Bali. Bedanya, yang dulu dibawakan artis kawakan, kali ini tidak lebih dari pelantun irama jalanan yang tampil dalam aksi unjuk rasa.
Demo mengecam Malaysia yang dinilai telah mengklaim Tari Pendet sebagai miliknya, membahana muncul sepanjang Selasa (25/8) di sejumlah pojok, perkantoran dan institusi yang ada di ibukota Pulau Dewata itu. Ratusan warga yang menamakan diri Aliansi Hindu Muda Indonesia, menggelar spanduk dan poster yang mengutuk tindakan Malaysia yang dinilai telah berbuat gegabah.
Dengan membentangkan spanduk dan mengacung-acungkan poster di persimpangan Catuk Muka Denpasar, mereka sempat membuat arus lalulintas bergerak tersendat-sendat di kawasan itu. Usai berorasi, para demontran melakukan "long march" ke sejumlah jalan protokol di pusat Kota Denpasar sembari menyanyikan lagu "Kembalikan Baliku".
Tidak hanya di pusat kota, namun di seputaran perkantoran gubernur dan gedung DPRD Bali di kawasan Renon, Denpasar, juga dibanjiri para pengunjuk rasa. Unjuk rasa di daerah itu dilakukan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Persatuan Alumni GMNI Bali. Sembari membawa spanduk "Kembalikan Baliku", mereka mendatangi gedung DPRD Bali untuk menyampaikan aspirasi terkait Tari Pendet yang telah dijadikan iklan promosi pariwisata Malaysia.
Organisasi tersebut dipimpin Ketua Persatuan Alumni GMNI Bali, I Dewa Ketut Wiarsa Rakasandi, selanjutnya diterima Ketua Komisi I DPRD Bali, Made Arjaya. Di hadapan wakil rakyat, Wiarsa Rakasandi mengatakan, Malaysia telah melakukan arogansi dan mengklaim sejumlah kebudayaan Indonesia sebagai miliknya, antara lain lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, alat musik angklung, kerajinan batik, keris pusaka khas Indonesia, dan kini yang terakhir Tari Pendet.
"Kami berharap Pemerintah Indonesia bersikap tegas terhadap ulah Malaysia yang telah menggunakan unsur kebudayaan Indonesia untuk kepentingan promosi wisata di negeri jiran itu," katanya.
Ia mengatakan, saat tarik ulur klaim lagu Rasa Sayange menyeruak dua tahun lalu, Malaysia telah membuat kesepakatan untuk senantiasa berdialog dengan Indonesia mengenai kebudayaan, apabila suatu unsur budaya kedua negara akan dipakai untuk ikon pariwisata atau kepentingan tertentu.
Namun nyatanya, Malaysia begitu arogan dan tanpa tedeng aling-aling telah "mencaplok" Tari Pendek untuk kepentingan iklan "Visit Malaysia Year" yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi, katanya.
Wiarsa Rakasandi mengatakan, Indonesia sebagai bangsa berdaulat, sudah saatnya mampu menunjukkan sikap tegas kepada dunia internasional. "Siapa pun yang mengusik kebudayaan Indonesia harus dilawan," ucapnya menandaskan.
Masih pada siang hari itu, puluhan demonstran yang tergabung dalam Komunitas Seniman Bali juga menggelar aksi protes di Taman Budaya Denpasar. Tidak jauh dari tempat itu, sedikitnya seratus mahasiswa dan staf pengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar juga menggelar aksi serupa di halaman kampusnya.
Senandung lagu "Kembalikan Baliku" yang didendangkan di kampus seni tersebut, terdengar cukup berbeda dibandingkan dengan yang dinyanyikan pengunjuk rasa di jalanan.
Dengan iringan musik kolaborasi petantonis dan diatonis, lagu "Kembalikan Baliku" nyaris sempurna diperdengarkan oleh paduan suara ISI, meski tampaknya mereka muncul secara dadakan. "Sebagai insan seni kami tidak bisa tinggal diam. Ini adalah bentuk protes terhadap Malaysia dan sekaligus mendukung langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dalam menyikapi tindakan negeri jiran yang tidak terpuji itu," kata Ketut Gede Agus Adi Saputra, koordinator lapangan aksi.
Mereka juga tampak membentangkan spanduk bertuliskan "Kembalikan Baliku", "Kembalikan Tariku", serta bentuk kecaman lain terhadap tindak arogansi Malaysia. Hadir di tengah pengunjuk rasa, Gurubesar ISI Denpasar Prof Dr Wayan Dibia MA.
Wayan Dibia mengatakan, tindakan yang mengambil seni budaya Indonesia itu merupakan pelanggaran hukum. Karena itu, Malaysia harus segera meminta maaf secara resmi kepada Indonesia. "Apabila Pemerintah Malaysia meminta izin kepada Pemerintah Indonesia untuk menggunakan seni budaya tersebut, tidak akan jadi masalah. Tapi dalam kasus ini, hal tersebut tidak dilakukan," ucapnya dengan nada tinggi.
Sementara Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan, masyarakat dunia mengetahui bahwa Tari Pendet atau tari selamat datang itu merupakan warisan seni budaya Bali, bukan milik bangsa lain. Mengingat hal tersebut, Malaysia tampaknya cukup tebal muka untuk berani-berani mengklaim Tari Pendet sebagai miliknya.
"Malaysia lewat siaran iklan 'Visit Malaysia Year' terkesan mengklaim Tari Pendet, sebuah karya seni yang biasa disuguhkan masyarakat Pulau Dewata saat menerima kehadiran tamu-tamu penting di daerah ini," kata Gubernur Pastika.
Ia mengatakan, atas nama masyarakat Bali dia sangat keberatan terhadap penanyangan iklan "Visit Malaysia Year" lewat televisi yang dapat diterima di berbagai negara. "Atas keberatan itu, kami telah melayangkan surat kepada pemerintah pusat supaya menindaklanjuti, karena permasalahan itu menyangkut hubungan antarnegara," ujar Gubernur Pastika.
Pastika berharap, pemerintah pusat lewat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata maupun Menteri Luar Negeri dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, apa yang didengungkan banyak orang tentang "Kembalikan Baliku", senantiasa benar-benar kembali seperti sedia kala, kata gubernur yang mantan Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN) itu. ant/ism
52 reads
Isi Komentar





yaaaaa.. sebetulnya pemerintah yg di protes, kenapa tdk menghormati dan menjunjung budaya adiluhung nusantara, namun sibuk mencari2 budaya timur tengah utk di cocok2 kan dgn kultur indonesia yg telah memiliki budaya adiluhung nusantara
Balasparah banget ya indonesia?? noordin m top orang malaysia ngebom di indonesia. para budayawan malaysia juga ngeklaim beberapa budaya indonesia sebagai milik malaysia...aneh bin ajaib...seolah2 indonesia sebagai medan jihad / perjuangan orang2 malaysia. Anjrit!!!
BalasIndonesia parah!!! kalo pemerintah indonesia diam aja, gak
Sebagai bentuk introspeksi diri kita juga.. berapa banyak dari kita yang hafal atau minimal tau lagu2 daerah beserta asal lagu tersebut? dibandingkan lagu2 barat atau lagu Pop jika ditanya apa judul dan siapa penyanyinya? bahkan kuis di TV pun ada tebak judul lagu Pop, kenapa tebak judul lagu daerah ga ada?
BalasKesadaran b