Intelejen Kita Kebobolan!

Sabtu, 18 Juli 2009, 03:29 WIB
Berita Terkait
JAKARTA -- Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP, Andreas Pareira, menilai, peristiwa serangan bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton, merupakan pukulan telak bagi aparatur keamanan negara, utamanya Badan Intelejen Negara (BIN).

“Intelejen kita kebobolan!” ujar Andreas kepada //Republika//, Jumat (17/7). Andreas menyampaikan hal tersebut usai mengunjungi lokasi peledakan bom di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, bersama empat anggota Komisi I lainnya.

Menurut Andreas, lokasi peledakan bom yang berada di tempat yang sama seperti bom serupa enam tahun lalu, mengindikasikan jika jaringan intelejen negara tidak berdaya di hadapan jaringan teroris.

Terlebih, kata Andreas, kawasan Mega Kuningan terutama Hotel JW Marriot adalah salah satu lokasi di ibukota yang tingkat pengamanannya cukup tinggi. Karenanya, ledakan bom di dua hotel bintang lima tidak bisa dianggap sesuatu yang main-main.

“Di lokasi yang pengamanannya //high secure// saja bisa kebobolan, bagaimana di tempat lain?”

Dikatakan, bom di Mega Kuningan merupakan ironi terhadap pemerintahan saat ini. Pemerintah yang selalu menjadikan isu stabilitas keamanan sebagai ikon keberhasilan kepemimpinan SBY, ternyata tak mampu membuktikan isu andalan pada masa kampanye pilpres lalu.

Lebih menyakitkan lagi, serangan peledakan bom justru terjadi setelah pelaksanaan pilpres. Andreas pun mempertanyakan laporan-laporan dari aparatur keamanan negara seperti kepolisian, TNI, Menko Polkam, dan BIN yang selalu memberikan rekomendasi jika keamanan negara dalam keadaan sangat bagus. “Mereka selalu bilang keamanan kondusif, terkendali.”

Gangguan keamanan yang terjadi di Papua sesaat setelah pelaksanaan pilpres, lanjut Andreas, ternyata tidak mampu membuat aparatur keamanan meningkatkan kesiagaannya. “Padahal bisa saja itu sebagai pesan kepada pemerintah untuk memberikan perhatian tinggi terhadap keamanan.”

Ihwal motivasi dan modus serangan bom, Andreas berpandangan, ada beberapa kemungkinan yang bisa dikedepankan. Hal yang paling mendekati adalah menggeliatnya kembali aktivitas jaringan terorisme di Indonesia. “Indikasi paling kuat kesimpulan bom terkait terorisme bisa dilihat dari bahan ledak bom berkekuatan tinggi dan kemiripan modus. Saya mengira bom itu dirakit di dalam hotel dengan cara membawa bahan-bahan bom dari luar hotel,” papar Andreas.

“Namun apa yang sebenarnya terjadi tentu harus menunggu penyelidikan dari polisi,” sambung Andreas.  ade/ahi

 
Redaktur:
Salim bin Abdullah dari ayahnya berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi menyentuh Ka'bah selain dua rukun Yamani." (HR Bukhari)
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...