Selasa, 6 Zulhijjah 1435 / 30 September 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Ditjen Pajak: Pajak Warteg Bukan Pajak Pusat

Jumat, 10 Desember 2010, 00:57 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan penegasan bahwa pajak warung tegal (Warteg) bukan merupakan pajak pusat tetapi merupakan pajak daerah. "Pajak Warteg bukanlah pajak pusat yang dikelola oleh pemerintah pusat cq Direktorat Jenderal Pajak, akan tetapi merupakan pajak daerah (bagian dari pajak restoran) yang dikelola oleh pemerintah daerah," kata Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak M Iqbal Alamsyah di Jakarta, Kamis (9/12).

Ia menjelaskan, pajak pusat adalah jenis pajak yang dikelola Ditjen Pajak Kemenkeu. Dikemukakannya bahwa yang tergolong sebagai jenis pajak pusat adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan Bea Materai.

Seluruh penerimaan jenis pajak pusat, lanjut dia, masuk dalam APBN. Sedangkan pajak daerah adalah jenis pajak yang dikelola oleh pemerintah daerah, di mana yang tergolong sebagai jenis pajak daerah antara lain pajak restoran, pajak hotel, pajak hiburan, pajak reklame, pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak penerangan jalan. Seluruh penerimaan jenis pajak daerah masuk dalam APBD daerah yang bersangkutan.

Namun terhitung mulai 1 Januari 2011, jenis pajak BPHTB akan dikelola oleh pemerintah daerah, sedangkan untuk jenis pajak PBB sektor perdesaan dan perkotaan akan dikelola oleh pemerintah daerah paling lambat 31 Desember 2013, Ini sesuai dengan amanat UU nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, katanya.

"Masyarakat perlu tahu mana yang dimaksud pajak pusat dan mana yang termasuk pajak daerah. Harapannya agar mereka dapat memberikan masukan, saran dan pertimbangan ke tempat yang seharusnya," kata Iqbal.

Ia juga menambahkan bahwa wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya menganut prinsip "self assessment", yaitu pajak yang dibayar terlebih dahulu dihitung dan diperhitungkan sendiri oleh wajib pajak. "Untuk itu Ditjen Pajak menghimbau agar semua wajib pajak melaporkan pajaknya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya," kata Iqbal.

Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : antara
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS Al-Baqarah: 39)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Wow, Pabrik di Tuban Pekerjakan Robot
 TUBAN -- Guna mendapatkan hasil masksimal, PT. Semen Gresik (Persero) Tbk di Tuban menggunakan jasa robot. Robot tersebut digunakan untuk melakukan sampling, persiapan dan...