Jumat, 27 Safar 1436 / 19 Desember 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Buruh Tangerang Tuntut Kenaikan UMK

Jumat, 03 Desember 2010, 02:35 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG--Ratusan buruh dari berbagai perusahaan di Kabupaten Tangerang menuntut kenaikan Upah Minimum Kumulatif (UMK) untuk tahun 2011. Namun, kalangan pengusaha keberatan dengan tuntutan.

Tuntutan itu mereka sampaikan pada aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Tangerang, Tigaraksa, Kamis (2/11). Mereka meminta Bupati Tangerang, Ismet Iskandar, menemui mereka untuk melakukan dialog mengenai tuntutan tersebut. Namun, karena Bupati tidak bisa menemui mereka, ratusan buruh kecewa dan sempat memaksa memasuki kantor bupati.

Namun, aksi mereka itu bisa dicegah oleh puluhan personel Polres Metro Tangerang Kabupaten yang mengamankan aksi itu. Menurut Koordinator Aksi, Koswara, mereka ingin Bupati Tangerang menyampaikan tuntutan kenaikan UMK itu  melalui surat rekomendasi kepada Gubernur Banten. Saat ini, pada tahun 2009 UMK Kabupaten Tangerang hanya sebesar Rp 1.125.000. “Kami ingin UMK pada tahun 2011 naik menjadi sebesar Rp 1.261.500,” ujar Koswara.

Terpisah, kalangan pengusaha Kabupaten Tangerang yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Tangerang keberatan dengan tuntutan buruh tersebut. Mereka menganggap tuntutan kenaikan UMK itu bisa merugikan perusahaan.

Menurut Sekretaris Jendral Apindo Kabupaten Tangerang, Djuanda Usman, ada beberapa faktor yang menyebabkan kalangan pengusaha menolak tuntutan buruh itu. Diantaranya adalah kondisi inflasi saat ini mencapai lima persen. Selain itu, mereka mereka menilai tuntutan kenaikan itu melebihi kenaikan UMK di DKI Jakarta yang hanya naik sebesar tujuh persen pada tahun 2011. “Kami menjadikan DKI Jakarta sebagai tolak ukur,” ujar Djuanda saat dihubungi Republika.

Reporter : C25
Redaktur : Budi Raharjo
Rasulullah SAW melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus.((HR. Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gerakan Kelompok Ekstrimis, Din: Lawan dengan Ideologi
JAKARTA -- Menghadapi kelompok ekstrimis tak cukup dengan saling mengecam. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin menjelaskan harus ada tanding ideologi. Ia...