Truk Rusak, Volume Sampah Bertambah
Selasa, 22 Desember 2009 01:20 WIB
JAKARTA--Pengemudi mobil suku dinas kebersihan Tegal Alur Jakarta Barat menuntut Suku Dinas Jakarta Barat agar mau bertanggungjawab terhadap perawatan mobil-mobil kebersihan yang beroperasi untuk mengangkut sampah warga Jakarta Barat.
Koordinator pengemudi truk sampah Tegal Alur, Bambang Nurjaman, mengeluh selama ini ia dapat mengeluarkan biaya perawatan paling tidak Rp 200 ribu per bulan. "Itu paling kecil, paling besar bisa mencapai Rp 500 ribu,"tutur pengemudi itu di Kompleks Kebersihan Tegal Alur, Jakarta Barat.
Bambang mengatakan biaya itu digunakan untuk membeli drum, untuk mengelas, membeli tambalan seng, dan keperluan lain agar mobilnya dapat beroperasi. "Selama ini, supir beli plat sendiri, ngelas sendiri,"ujarnya.
Menurutnya, saat ini, terdapat 5 bak mobil sampah yang rusak dan 6 mobil yang mesinnya rusak. Sehingga, ujarnya, terdapat 11 mobil yang tidak dapat beroperasi. Ia pun menunjukkan kepada republika dua bak mobil pengangkut sampah yang sudah tidak dapat terpakai dan dibiarkan teronggok begitu saja. Menurutnya, bak tersebut sebenarnya masih bisa difungsikan jika diperbaiki.
Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Barat, Amir Sagala, menyatakan tidak benar jika pemerintah tidak menanggung perawatan mobil kebersihan yang dikeluhkan para pengemudi.Menurutnya, anggaran untuk perawatan mobil tersebut dapat diminta dari para atasan mereka di kecamatan.
Amir menegaskan, sekitar Rp 3 Miliar anggaran yang diperuntukkan bagi perawatan mobil kebersihan di Jakarta Barat. Menurutnya, para pengemudi dapat meminta dana perawatan jika mobilnya mengalami kerusakan. "Kalau ada yang mau ganti ban (misalnya) masa kita tidak ganti,"tuturnya kepada republika.
Amir mengatakan terdapat Program Perawatan dan Perbaikan yang digulirkan untuk mobil kebersihan, termasuk 150 unit yang ada di Tegal Alur. Namun, untuk mendapatkan uang perawatan seharusnya para pengemudi meminta dari atasannya dengan proses administrasi yang sudah ditentukan.
Meski demikian, Amir mengakui terdapat beberapa truk sampah yang saat ini masih dalam perbaikan. Menurutnya, dari 170 truk sampah yang dimiliki, beberapa di antaranya mengalami kerusakan. "Tidak terangkutnya sampah secara menyeluruh, salah satunya memang disebabkan keterbatasan jumlah truk dan gerobak pengangkut sampah," jelasnya.
Minimnya truk pengangkut sampah ini pun berdampak pada menumpuknya sisa sampah di Jakarta barat. Seperti yang dikatakan oleh Wakil Walikota Jakarta Barat, Sukarno, terdapat 6.490 m3 sampah industri dan rumah tangga yang seharusnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, dari jumlah tersebut,hanya 5.563 meter kubik sampah yang berhasil dibuang ke TPA. Sisanya, sebanyak 927 meter kubik tidak bisa diangkut dan dibiarkan menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Selain truk sampah yang tidak memadai, Sukarno menyebutkan, rendahnya kesadaran masyarakat dalam hal penanganannya. Contohnya, Operasi Yustisi Kebersihan di Terminal Kalideres beberapa hari lalu, puluhan orang berhasil dijaring. Hari pertama 30 orang dijaring, sedang hari kedua 18 orang berhasil dijaring. "Ini membuktikan betapa rendahnya kesadaran warga," ungkapnya. c01/rin
Koordinator pengemudi truk sampah Tegal Alur, Bambang Nurjaman, mengeluh selama ini ia dapat mengeluarkan biaya perawatan paling tidak Rp 200 ribu per bulan. "Itu paling kecil, paling besar bisa mencapai Rp 500 ribu,"tutur pengemudi itu di Kompleks Kebersihan Tegal Alur, Jakarta Barat.
Bambang mengatakan biaya itu digunakan untuk membeli drum, untuk mengelas, membeli tambalan seng, dan keperluan lain agar mobilnya dapat beroperasi. "Selama ini, supir beli plat sendiri, ngelas sendiri,"ujarnya.
Menurutnya, saat ini, terdapat 5 bak mobil sampah yang rusak dan 6 mobil yang mesinnya rusak. Sehingga, ujarnya, terdapat 11 mobil yang tidak dapat beroperasi. Ia pun menunjukkan kepada republika dua bak mobil pengangkut sampah yang sudah tidak dapat terpakai dan dibiarkan teronggok begitu saja. Menurutnya, bak tersebut sebenarnya masih bisa difungsikan jika diperbaiki.
Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Barat, Amir Sagala, menyatakan tidak benar jika pemerintah tidak menanggung perawatan mobil kebersihan yang dikeluhkan para pengemudi.Menurutnya, anggaran untuk perawatan mobil tersebut dapat diminta dari para atasan mereka di kecamatan.
Amir menegaskan, sekitar Rp 3 Miliar anggaran yang diperuntukkan bagi perawatan mobil kebersihan di Jakarta Barat. Menurutnya, para pengemudi dapat meminta dana perawatan jika mobilnya mengalami kerusakan. "Kalau ada yang mau ganti ban (misalnya) masa kita tidak ganti,"tuturnya kepada republika.
Amir mengatakan terdapat Program Perawatan dan Perbaikan yang digulirkan untuk mobil kebersihan, termasuk 150 unit yang ada di Tegal Alur. Namun, untuk mendapatkan uang perawatan seharusnya para pengemudi meminta dari atasannya dengan proses administrasi yang sudah ditentukan.
Meski demikian, Amir mengakui terdapat beberapa truk sampah yang saat ini masih dalam perbaikan. Menurutnya, dari 170 truk sampah yang dimiliki, beberapa di antaranya mengalami kerusakan. "Tidak terangkutnya sampah secara menyeluruh, salah satunya memang disebabkan keterbatasan jumlah truk dan gerobak pengangkut sampah," jelasnya.
Minimnya truk pengangkut sampah ini pun berdampak pada menumpuknya sisa sampah di Jakarta barat. Seperti yang dikatakan oleh Wakil Walikota Jakarta Barat, Sukarno, terdapat 6.490 m3 sampah industri dan rumah tangga yang seharusnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, dari jumlah tersebut,hanya 5.563 meter kubik sampah yang berhasil dibuang ke TPA. Sisanya, sebanyak 927 meter kubik tidak bisa diangkut dan dibiarkan menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Selain truk sampah yang tidak memadai, Sukarno menyebutkan, rendahnya kesadaran masyarakat dalam hal penanganannya. Contohnya, Operasi Yustisi Kebersihan di Terminal Kalideres beberapa hari lalu, puluhan orang berhasil dijaring. Hari pertama 30 orang dijaring, sedang hari kedua 18 orang berhasil dijaring. "Ini membuktikan betapa rendahnya kesadaran warga," ungkapnya. c01/rin
65 reads
Isi Komentar




