Perusakan Gereja di Bekasi Akibat Kesenjangan Sosial
Senin, 21 Desember 2009 03:36 WIB
BEKASI--Pembakaran fasilitas gereja Santo Albertus, Kecamatan Medan Satria, Bekasi terjadi bukan persoalan agama melainkan karena kesenjangan sosial. Hal ini ditegaskan Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kota, Ajun Komisaris Imam Sugianto.
"Warga asli Bekasi di sekitar gereja mayoritas ekonominya rendah dan semakin tergusur ke wilayah pesisir laut utara karena pembangunan gereja,” kata Imam, Ahad (20/12). Gereja Santo Albertus di jalan Boulevard Perumahan Harapan Indah, Kecamatan Medan Satria diserbu sekelompok massa saat pawai obor, Kamis (17/12) malam lalu. Massa berasal dari Kecamatan Tarumajaya dan Babelan, wilayah pesisir pantai Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Menurut Imam, massa berjumlah sekitar 600 orang. Mereka melakukan pembakaran secara spontan, ketika melintas di depan gereja, massa melemparkan obor yang masih menyala. Bedeng tempat pekerja bangunan gereja beristrahat dan kantor konsultan pembangunan gereja rusak berat dilahap api.
Malam itu terdapat 33 orang diamankan, terdiri dari 15 laki-laki dan 14 perempuan. Setelah diperiksa tidak satupun terbukti menghasut, sehingga mereka dilepas. Hanya satu orang ditahan, yakni A. Rosadi, itupun karena mencuri alat bangunan. "Belum tahu siapa yang memprovokasi," kata Imam.
Meski demikian, Imam berjanji tetap melanjutkan kasus tersebut. Tim penyidik tetap memburu dalang dari peristiwa pembakaran itu. Sejumlah ulama di Medan Satria, kata Imam, mendesak supaya pelaku diusut tuntas karena mencemarkan nama baik Islam.
Gereja Santo Albertus mulai dibangun setahun lalu, di lahan seluas tiga hektar. Bagian bangunan yang baru berdiri sekitar 60 persen, yaitu, tiang pancang dan atap. Bangunan gereja itu tidak dirusak massa. c14/irf
"Warga asli Bekasi di sekitar gereja mayoritas ekonominya rendah dan semakin tergusur ke wilayah pesisir laut utara karena pembangunan gereja,” kata Imam, Ahad (20/12). Gereja Santo Albertus di jalan Boulevard Perumahan Harapan Indah, Kecamatan Medan Satria diserbu sekelompok massa saat pawai obor, Kamis (17/12) malam lalu. Massa berasal dari Kecamatan Tarumajaya dan Babelan, wilayah pesisir pantai Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Menurut Imam, massa berjumlah sekitar 600 orang. Mereka melakukan pembakaran secara spontan, ketika melintas di depan gereja, massa melemparkan obor yang masih menyala. Bedeng tempat pekerja bangunan gereja beristrahat dan kantor konsultan pembangunan gereja rusak berat dilahap api.
Malam itu terdapat 33 orang diamankan, terdiri dari 15 laki-laki dan 14 perempuan. Setelah diperiksa tidak satupun terbukti menghasut, sehingga mereka dilepas. Hanya satu orang ditahan, yakni A. Rosadi, itupun karena mencuri alat bangunan. "Belum tahu siapa yang memprovokasi," kata Imam.
Meski demikian, Imam berjanji tetap melanjutkan kasus tersebut. Tim penyidik tetap memburu dalang dari peristiwa pembakaran itu. Sejumlah ulama di Medan Satria, kata Imam, mendesak supaya pelaku diusut tuntas karena mencemarkan nama baik Islam.
Gereja Santo Albertus mulai dibangun setahun lalu, di lahan seluas tiga hektar. Bagian bangunan yang baru berdiri sekitar 60 persen, yaitu, tiang pancang dan atap. Bangunan gereja itu tidak dirusak massa. c14/irf
492 reads
Isi Komentar





Terimakasih atas kejadian ini..semakin dianiaya maka gereja semakin kuat imannya...sejarah telah membuktikan...kota Roma yang menganiaya orang kristen awal berubah menjadi kota kristen...Saulus penganiaya orang Kristen awal menjadi Santo Paulus yg tangguh ....siapakah berikutnya?mungkin bekasi
BalasLha apa kalo ada kesenjangan sosial lalu boleh boleh saja memrusak fasilitas rumah ibadat
BalasWah...menurut ajaran Kristiani tidak boleh dengan alasan apapun kita merusak milik orang lain.