Tuesday, 8 Sya'ban 1439 / 24 April 2018

Tuesday, 8 Sya'ban 1439 / 24 April 2018

Enam Satwa di Kebun Binatang Surabaya Dalam Kondisi Kritis

Sabtu 14 August 2010 04:39 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Enam satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) saat ini diketahui dalam kondisi kritis karena diduga kurang perawatan dari para petugas, kata Ketua Manajeman Sementara KBS Tony Sumampaw, Jumat (13/8). Enam satwa dalam kondisi kritis tersebut yakni harimau Sumatera, babi rusa, jaguar, jerapah, bison dan banteng.

"Enam satwa itu butuh perawatan khusus," katanya. Diketahui keberadaan satwa-satwa langka di KBS saat ini semakin mengenaskan. Hal itu terbukti setelah singa Afrika dan kangguru mati misterius pada Kamis (12/8) lalu.

Menurut dia, rata-rata kondisi satwa-satwa langka ini sudah tua, apalagi tidak pernah ada perawatan khusus yang diberikan petugas-petugas KBS. Ditambah kondisi kandang dan pencahayaan matahari tidak sesuai dengan standar pengelolaan binatang.

Namun demikian, ia mengatakan kondisi satwa-satwa masih dalam pantauan tim dokter, seperti halnya untuk harimau Sumatera masih dalam proses pengobatan, karena kondisinya lumpuh. Saat ini, lanjut dia, harimau Sumatera itu masih belum mau makan karena disinyalir penyebab penyakit yang diderita akibat kekurangan pencahayaan matahari.

Sedangkan untuk lima satwa langka lainnya karena kondisi sudah tua. Saat ini, tim dokter masih melakukan pengawasan secara intensif.

Tony mengungkapkan, kematian-kematian satwa diperkirakan akan terus berlanjut. Untuk mengatisipasi hal ini, dia berharap supaya ada badan hukum yang mengelola KBS tanpa menunggu konflik kedua kubu pengelola KBS (Stany Soebakir dan Basuki Rekso) selesai.

"Kalau pengelolaan tidak segera dilakukan, korban satwa mati akan terus bertambah," ujar dia. Tony mengaku akan terus melakukan pengawalan secara khusus terhadap kondisi satwa satwa di KBS. Pengawasan juga dilakukan terhadap proses laboratorium organ-organ singa afrika dan kangguru.

Menurut dia, jika dalam pemeriksaan tim dokter dari Fakultas Kedokteran Unair menemukan kejanggalan seperti mati karena dipukul atau diracun, maka pihak yang harus brtanggung jawab adalah petugasnya. Bila itu yang terjadi berarti mereka tidak bisa merawat bahkan sengaja melakukan pembunuhan terhadap satwa yang dilindungi.

"Semua bisa diketahui dalam dua-tiga hari kedepan. Hasil laboratorium akan segera dikeluarkan," ujarnya. Tony mengaku, kematian singa dan kangguru akibat buruknya pengelolaan KBS yang tidak profesional. Situasi itu kian membuat KBS memprihatinkan.

Selama 2,5 bulan terakhir tercatat sekitar 300 hewan telah mati terserang penyakit. Data yang mengejutkan, binatang yang mati terbanyak adalah komodo. "Dari 300 hewan yang mati 40 di antaranya komodo," kata dia.

Sumber : Ant
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA