Rabu, 16 Jumadil Akhir 1435 / 16 April 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Hama Berbahaya Pseudomonas Hampir Lolos ke Indonesia

Selasa, 10 Agustus 2010, 01:52 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN--Balai Karantina Peranian Kelas II Yogyakarta memusnahkan sejumlah bibit tananam, buah segar, dan bawang-bawangan yang masuk melalui Bandara Adisucipto baik yang dikirim melalui paket atau dibawa langsung penumpang. satu di antara yang dimusnahkan itu adalah paket bibit kubis Brassica oleracea var capitata L, yang masuk dalam bentuk paket dari Korea Selatan.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan di laboratorium (dari tanggal 16 Juni sampai 14 Juli 2010), bibit kobis ini ternyata diketahui mengandung bakteri Pseudomonas syringae pv syringae. Bakteri ini belum terdapat di Indonesia.

Bakteri ini, katanya, sangat berbahaya dan dapat menyerang berbagai jenis tanaman pertanian seerti buncis, cabai, jeruk, timun, tomat, kedelai, kesemek dan mangga.

Bibit kobis ini, menurut dia, milik PT Oriental Seed yang beralamat di Desa Trirenggono, Bantul, dan masuk ke Yogyakarta sekitar pertengahan Juni 2010.

Barang ini masuk melalui paket pos dan telah dilengkapi dokumen phytosanitary certificatre (dari National Plant Quarantine Service Korea Selatan), surat ijin pemasukan, packing list dan invoice. Jumlah bibit rincinya adalah kubis OR-AYU 25 kg dan kubis OR-Pride dua koli.

Menurut Kepala Balai Karantina Pertanian Yogyakarta, Drh Wisnu Sutomo, paket bibit ini diterimakan melalui Kantor Pos Plemburan, dan lalu dikirimkan ke Balai Karantina untuk diperiksa. ''Namun setelah diuji dan ditemukan bakteri berbahaya, maka bibit tersebut harus dimusnahkan,'' katanya.

Sedang buah-buahan dan serta bawang-bawangan dibawa langsung oleh pemiliknya (penumpang) tanggal 1 sampai 5 Agustus melalui penerbangan Malaysia Air Line (dari Malaysia) dan Air Asia (dari Singapura).

Menurut dia, buah-buahan itu harus ditolak masuk ke wilayah Indonesia, karena dikhawatirkan membawa masuk lalat buah Caratitis capitata, yang berbahaya bagi buah-buahan asli Indonesia.

Selain itu juga. lanjutnya, Bandara Adisucipto tidak ditetapkan sebagai tempat pemasukan buah-buah dan suyuran segar, sehingga pemasukan buah-buahan melaui bandara ini harus ditolak,'' kata dia.

Reporter : Youbal Ganesha
Redaktur : Siwi Tri Puji B
Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap(HR Muslim )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  joni Selasa, 10 Agustus 2010, 17:38
Apakah penemuan tersebut berasal dari laboratorium yang independen dan dapat diandalkan?Sudahkah kerjasama dg universitas di Jogja? Apabila tidak ada bukti yang mendukung maka pihak eksportir akan sangat mudah menuntut sesuai hukum dagang internasional yg berlaku dan kredibilitas keilmiahan Indonesia akan terancam.
  Bujel Senin, 9 Agustus 2010, 23:21
Waspadalah, tentu phk asing yg ingin mengambil keuntungan dan menikmati penderitaan kita.
Tolong para pejabat juga 'aware" untuk masalah ini. Sekarang makin banyak pejabat yg mendukung ide-ide pihak asing. Para pejabat kita di Deptan dab Depkes emang pintar-pintar tapi gak ada manfaat apa-apa buat rakyat.
  bsnh Senin, 9 Agustus 2010, 22:54
ya musti ati2 dengan adanya bioteknologi....virus2 yang dilahirkan untuk hancurkan produk pertanian kita.......
selanjutnya semakin cermat dalam protected produk luar bisa masuk negara kita Indonesia