Selasa, 28 Zulqaidah 1435 / 23 September 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Duta Thalasemia, Berjuang Dari Kekurangan

Kamis, 31 Desember 2009, 03:21 WIB
Komentar : 0
JAKARTA--Fakta kurang mengenakkan kerap kali menimpa anak-anak penderita Thalasemia. Pasalnya, berbeda dengan anak-anak normal, penderita Thalasemia cenderung berpenampilan layaknya anak kurang gizi. Akibat dari itu anak-anak penderita Thalesemia cenderung mengucilkan diri.

Berangkat dari hal itu Novartis Indonesia bekerja sama dengan Orange For Kids menggagas program Duta Thalasemia. Program ini memilih 10 penderita Thalasemia untuk menjadi Duta yang bertugas memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang Thalasemia dan bersama-sama pihak berwenang memberikan perhatian kepada pasien thalasemia serta tindak pencegahannya.

Pimpinan Orange For Kids,Nita Hartawan mengatakan melalui program ini, pihaknya berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam hal perkembangan psikososial anak-anak penderita Thalasemia. Hal senada juga disampaikan Joko Murdianto, Head of Oncology Novartis Indonesia yang mengatakan,"Salah satu tantangan dalam mengobati Thalasemia adalah untuk meningkatkan kepatuhan pasien terutama pada pasien anak dalam rutinitas menjalani transfusi darah dan mengkonsumsi obat kelasi besi," tuturnya dalam Acara perkenalan Duta Thalasemia di Jakarta, Senin (29/12).

Adapun Ke-10 duta thalasaemia yang juga penderita thalassaemia adalah Yusmardani (21 tahun), Bangkit Prayoga (11 tahun), Shinta Ramadhani (19 tahun), Thariq Hidayat Kanz (17 tahun), Yeli Susilawati (14 tahun), Panglipur (17 tahun), Ina Yuniarsih (18 tahun), Eko Hari Nugroho (24 tahun), Cindy (17 tahun) dan Nina (17 tahun).

10 orang Duta Thalasemia ini yang berasal dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta sebanyak 5 orang, RS Hasan Sadikin Bandung sebanyak 3 orang dan RSU Tangerang sebanyak 2 orang. Pemilihan pasien-pasien ini didasarkan atas pertimbangan motivasi hidup yang tinggi, kemauan yang kuat untuk berbagi dengan pasien lain, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik serta berkomitmen untuk menjalankan program ini.

Salah satu duta thalassaemia, Thariq Hidayat Kanz, 17 tahun, siswa kelas 3 SMK An-Nurmaniyah, Ciledug, Tangerang, ia menderita thalassaemia sejak umur 5 tahun. Awalnya Thariq tidak tahu jika dirinya menderita thalassaemia. Saat itu dia berpikir menderita penyakit biasa seperti sakit panas, mual dan perutnya membuncit. Setelah dirinya dirawat di rumah sakit barulah diketahui ia terkena thalasemia.

Orang tua Thariq juga tidak menyadari anaknya menderita Thalasemia. Sang ibu, Dahlia mengaku dirinya dan sang suami tidak sadar mengidap thalasemia minor (carrier) dan juga tidak memahami bahwa penyakit itu akan menurun ke anaknya. "Saya tidak tahu kalau saya dan suami menderita thalassaemia minor, karena tidak menunjukkan gejala apapun," ujarnya.

"Seandainya, saya tahu sedari awal, mungkin saya tidak akan menikah dan segera mempunyai anak," akunya jujur.

Usai divonis terkena thalassaemia, Thariq kecil harus menjalani transfusi darah sebulan sekali, setelah tiga bulan Thariq harus menjalani tes ferritin serum guna melihat kadar zat besi dalam tubuhnya dan disimpulkan kadar besi dalam darah Thariq lebih dari 1.000 nanogram/dl sehingga harus mengonsumsi obat kelasi besi seumur hidupya.

"Waktu pertama kali mengonsumsi obat saya merasa mual-mual dan lemas hingga tidak bisa berdiri, tapi setelah beberapa waktu tidak ada masalah lagi, dan kini saya bisa beraktivitas seperti orang normal dengan tetap sekolah dan berolahraga hanya tidak boleh terlalu capek," ujarnya.

Thariq mengaku bila dirinya sudah merasa tidak enak badan, tidak nafsu makan dan lemas itu berarti pertanda dirinya harus melakukan transfusi darah, hingga saat ini Thariq masih mengonsumsi obat kelasi besi sebanyak 3 butir setiap harinya dan menjalankan rutinitas transfusi darah dua bulan sekali.

Terkait dengan pengobatan Thalsemia bagi penderita anak-anak, Thariq berpendapat, kesulitan yang dirasakan anak-anak saat pengobatan adalah , tidak pernah diingatkan, susah menelan dan cenderung pahit."Saya berharap semua penderita thalasaemia memiliki kesempatan yang sama dengan anak normal lainnya. Karena banyak anak thalasaemia yang tidak bersekolah akibat malu diejek teman-temannya dan merasa putus harapan," ujarnya.

Dia pun berpendapat penderita halassaemia seharusnya memiliki cita-cita dan terus bersekolah layaknya anak-anak normal." Dengan melakukan transfusi darah dan mengonsumsi obat yang rutin, anak yang terkena thalassaemia tetap bisa beraktivitas layaknya anak normal," tegasnya. cr2/rin
Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya.(HR Muslim )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar