Friday, 24 Zulqaidah 1435 / 19 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Gembong Narkoba Kolombia Tewas Ditembak Polisi

Friday, 31 December 2010, 07:22 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOTA--Presiden Kolombia pada Rabu memuji kematian Pedro Guerrero oleh kepolisian nasional, gembong narkoba yang lebih dikenal sebagai "Sang Pisau" yang dihargai 2,5 juta dolar AS untuk penangkapan dirinya.

Pihak berwenang mengatakan gembong yang juga mantan anggota paramiliter, mendapat nama panggilan Spanyol "Cuchillo", bertanggung jawab atas kematian 3.000 orang, sebagian besar saat ia memimpin satuan dengan kelompok sayap kanan "United Self-Defense Forces of Colombia (AUC)".

Guerrero, 40 tahun, dipasang hadiah uang 2,5 juta dolar AS untuk penangkapan dirinya atas peran penyeludupan narkoba ke Amerika Serikat. "Pembunuh dari segala pembunuh telah tumbang," kata Presiden Juan Manuel Santos, berbicara kepada wartawan di markas kepolisian nasional Kolombia di Bogota.

"Kami telah mengejarnya selama bertahun-tahun," lanjutnya dikutip AFP. Santos menggambarkan kematian Guerrero sebagai "pukulan telak yang telah kita layangkan terhadap kelompok paramiliter narkoba."

Sekitar 200 anggota komando polisi menyerang persembunyian Guerrero di pedalaman wilayah tenggara kota Puerto Alvira pada akhir 24 Desember, saat Natal umumnya dirayakan.

Setelah pertempuran senjata api polisi menahan tujuh anggota kelompok, termasuk kepala kuangan sindikat Harold Rojas Pineros, juga dikenal sebagai "Loco Harold" atau "Harold si Gila".

Polisi awalnya tidak menemukan Guerrero, tetapi menemukan mayatnya pada Selasa malam sekitar 200 meter dari pusat pertempuran.

Mayatnya sudah membusuk, tetapi pakar forensik telah mengkonfirmasi gembong narkoba itu setelah memeriksa sidik jari mayat. Dua petugas polisi terbunuh dalam baku tembak, kata Santos.

Dalam konferensi pers, kepala kepolisian nasional Oscar Naranjo menunjukkan dihadapan wartawan pistol Guerrero dengan gagang emas, serta pisau penjagal yang dikatakan biasa digunakan gembong itu untuk memotong leher korban.

Guerrero memimpin sekelompok mantan pejuang sayap kanan yang menolak dibubarkan pada 2006 saat AUC mencapai kesepakatan dengan Alvaro Uribe, presiden Kolombia yang menjabat saat itu.

"Cuchillo" dan anak buahnya tetap mempertahankan persenjataannya dan membentuk kelompok sempalan bernama Pasukan Anti-teroris Revolusi Populer Kolombia (ERPAC), yang kemudian berkembang menjadi kelompok yang memperdagangkan obat terlarang.

ERPAC, yang aktif di Kolombia tengah, memiliki 1.000 anggota dan merupakan satu dari enam kelompok mantan pejuang paramiliter yang sekarang bergeser menjadi pedagang narkoba, menurut pihak berwenang Kolombia.

Uribe menjadi terobsesi dengan usaha penumbangan Guerrero dan mendesak secara umum pasukan keamanan untuk menekan penangkapannya, bahkan memecat jenderal militer karena dianggap kurang menekan dengan keras.

ERPAC termasuk dalam daftar Khusus terhadap Pedagang Narkoba Kementerian Keuangan AS, akan orang dan kelompok yang dilarang melakukan bisnis dengan warga AS.

Kelompok tersebut "beroperasi di Kolombia timur untuk melindungi ladang koka dan jalur perdagangan narkoba" bekerja sama dengan FARC, kelompok yang Washington anggap sebagai "organisasi teroris narkoba," menurut pernyataan kementerian keuangan AS baru-baru ini.

Redaktur : taufik rachman
Sumber : antara
"Orang munafik adalah orang yang banyak mencela, dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan saudaranya"((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...