
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV--Heli dan Eli menjual kondominium milik mereka yang berlokasi di Exodus Street. Dari nama jalan saja sudah mencerminkan kerumitan yang terjadi di kawasan itu. Kerumitan kian menjadi ketika zionis Israel mencaploknya. Entah pemikiran apa di balik pencaplokan kawasan itu.
Mungkinkah karena latar panorama laut Asdod yang bisa dijadikan bisnis properti miliaran dolar atau pencaplokan itu dilakukan karena Israel tidak memiliki pemandangan seperti itu saat melalui fase diaspora. "Bahkan ketika Qas-sams jatuh ke tangan Israel, kami terus menjualnya. Apa yang masyarakat lihat di televisi tidaklah benar. Saya berhasil menjual 12 apartemen. Jika Anda bukan klien, saya akan mengatakan kepadamu fakta sebenarnya," ungkap Heli seperti dikutip dari Time versi Online, Kamis (2/9).
Sebenarnya apa yang terjadi dalam pekan? Tiga orang presiden, seorang raja, dan perdana menteri bertemu di Gedung Putih untuk kembali berbicara tentang perdamaian antara Israel dan Palestina. Hal yang terjadi adalah Israel tampak tidak lagi sibuk dengan masalah perdamaian. Mereka (Israel) tidak tidak terlibat, Israel hanya tahu bagaimana berbisnis dan menikmati guyuran sinar matahari di akhir musim panas. Dunia mungkin mendefinisikan Israel dengan pertumpahan darah dan pengusiran orang-orang arab dan persoalan ini bisa dinegosiasikan dan Israel bakal mengatakan mereka berencana pindah.
Coba tengok 2,5 tahun tanpa adanya pristiwa bom bunuh diri, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan begitu lelahnya menghadapi Palestina, warga Israel tampak lebih senang mengeksplorasi kepuasan yang tersedia dari lingkungan privat atau lebih tepatnya disebut utopis. "Dengarkan saya, bicara perdamaian, lupakan saja. Mereka (Israel) tidak akan memberikan perdamaian. Ingat Clinton yang memberikan 99 persen untuk Arafat dan bukannya mereka berjuang untuk 1 persen, apakah itu intifadah," papar Eli Bengozi, Yahudi keturunan Georgia.
Tapi tunggu dulu, secara mendalam hampir dari setiap bagian dunia bertanya bukankah seharusnya Israel mencari perdamaian dengan Palestina guna mendapatkan jaminan kebahagiaan dan kesejahteraan. Sayangnya, itu tidak tepat. Sebuah survei yang dilakukan Maret lalu ihwal persoalan yang paling mendesak dihadapi Israel.
Hanya 8 persen warga Israel yang mengatakan konflik Palestina, sedangkan masalah lainnya adalah pendidikan, kejahatan, keamanan nasional dan kemiskinan. Sementara hal yang paling diharapkan adalah menempatkan perdamaian antara Arab-Israel.
Namun, sebagian besar warga Israel menilai pemanggilan Presiden Obama hanya untuk menanggapi kritik dunia terhadapnya. "Masyarakatnya, tidak akan peduli. Warga Israel sangat berbeda. Mereka tidak peduli jika terjadi perang. Mereka tidak peduli akan terwujudnya perdamaian. Mereka tidak akan peduli karena mereka hidup di hari itu bukan besok," tutur Eli.
Warga Israel sangat berbeda. Mereka tidak peduli jika terjadi perang. Mereka tidak peduli akan terwujudnya perdamaian. Mereka tidak akan peduli karena mereka hidup di hari itu bukan besok," tutur Eli.
Balas... Patut dicontoh.
Allah tidak lupa dan tidak tidur, Allah hanya satu yaitu Allah yg menciptakan umat manusia dan alam semesta. Insya Allah pertolonganNYA akan datang kepada yang diZhalimi...berpegang teguhlah pada agama Allah.
Balas@alfrids: ya Allah israel hebat sampai2 anaknya digantung ditiang jemuran.. menyelamatkan diri aja gak bisa, macam mana umatnya
BalasBaiknya kita melihat Allah siapa yang MahaKuasa,Allah Israel atau Allah Arab.Buktinya,Israel yang penduduknya sedikit dibanding dengan tetangganya Arab,tapi punya Otak Cemerlang yang berguna untuk seluruh Dunia.Sementara orang Arab hanya memikirkan sebidang tanah Israel,bahkan mau menggusur orang Israel sampai dilaut.
BalasPerundingan hanyalah pengalihan semata. Rakyat Palestina tetap jadi korban kezionisan israel. kenapa hanya israel yg bersenjata, sementara palestina tidak? dimana letak keadilan? Ga seimbang dong, ah cetek banget tu amerika.
Balas