Sedikit Harapan Perundingan Damai Palestina-Israel

Kamis, 02 September 2010, 22:16 WIB
Reuters
Sedikit Harapan Perundingan Damai Palestina-Israel
Presiden Palestina Mahmoud Abbad diterima Presiden Barack Obama

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON--Perundingan damai antara Palestina dengan Israel akhirnya segera digelar kembali. Setelah terhenti selama 20 bulan, perundingan langsung itu akan mulai dilakukan Kamis (2/9) waktu Washington bertempat di Gedung Putih, Amerika Serikat.

Presiden Barack Obama secara bergiliran telah menerima pemimpin dari kedua negara. Sejak Rabu (1/9) pagi, serangkaian sesi pembicaraan telah dimulai sebelum menuju pertemun puncak Kamis itu. Palestina dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas dan Israel oleh Perdana Menteri Banjamin Netanyahu. Para pertemuan puncak nanti, keduanya akan bertemu langsung dengan dimediatori Presiden Obama.

Sebelumnya, berbicara kepada wartawan di pesawatnya saat menuju Washington, Presiden Palestina meminta peran serta aktif Amerika dalam perundingan. Dia berharap Amerika bisa menjembatani perbedaan keinginan yang muncul dalam pembicaraan nanti. Salah satu masalah utama dalam pembicaraan damai itu adalah tuntutan Palestina agar Israel memperpanjang masa pembekuan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang akan berakhir pada 26 September 2010.

Seorang pejabat Palestina mengatakan pembangunan permukiman Israel hanya akan mengakhiri pembicaraan damai. ''Pembangunan pemukiman harus dihentikan,'' tegas juru bicara Palestina, Nabil Abu Rudeina. Dia berbicara setelah Netanyahu mengatakan tidak ada perubahan posisi Israel untuk mengakhiri pembekuan pembangunan pemukiman itu yang telah dilakukan selama 10 bulan.

Abu Redeina mengatakan perundingan damai akan berakhir sia-sia kecuali Israel mau memenuhi tuntutan Palestina tersebut. Sementara, Israel ngotot akan menjadikan Yerusalem sebagai ibukota negaranya yang tak terpisahkan dari Israel. Pejabat di pemerintahan Netanyahu itu mengatakan, ''Posisi Perdana Menteri adalah bahwa Yerusalem adalah salah satu isu utama yang ada di meja perundingan.''  Dia melanjutkan, ''Yerusalem akan tetap menjadi Ibukota Israel yang tak terpisahkan.''

Redaktur: Budi Raharjo
Reporter: Arab News
Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:123))
mariska, Senin, 13 September 2010, 15:44

kemerdekaan? setahu saya kalau suatu bangsa itu merdeka di tanah mereka sendiri...?

Balas
Arie, Kamis, 2 September 2010, 20:48

secara hukum international tdk perlu ada perundingan. tanah yg dijajah, harus dikembalikan 100%, tanpa syarat. pembangunan settlement di atas tanah jajahan juga bertentangan dgn hukum international. sederhana aja, PBB cukup menjalankan ini, bahkan Palestina bisa secara unilateral mengumumkan kemerdekaannya.

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...