Monday, 2 Safar 1436 / 24 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Detail Rahasia Perang Afghanistan Bocor ke Publik

Monday, 26 July 2010, 21:29 WIB
Komentar : 0
Pasukan koalisi AS-Sekutu di perang Afghanistan (Ilustrasi)
Pasukan koalisi AS-Sekutu di perang Afghanistan (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Tiga publikasi berita utama mengungkap sejumlah dokumen dan menyatakan di dalamnya berisi pembunuhan tak terlaporkan terhadap warga sipil Afghanitas. Bobot isi kertas-kertas rahasia itu disebut sebagai salah satu kebocoran terbesar dalam sejarah militer AS. Gedung Putih pun mengecam kebocoran tersebut sebagai "bentuk tak bertanggungjawab".

Laporan yang dipublikasikan oleh The Guardian, New York Times dan media mingguan Jerman, Der Spiegel, Senin (26/7) mengatakan insiden dokumen bocor itu mengungkap keprihatinan NATO bahwa Pakistan dan Iran membantu pemberontak Taliban di Afghanistan.

Namun, duta besar Pakistan di Washington membantah dan mengatakan laporan ilegar itu tidak mencerminkan kenyataan sesungguhnya yang terjadi di lapangan. "Amerika Serikat, Afghanistan dan Pakistan adalah partner strategis dan bergabung bersama untuk menumpas Al Qaidah serta sekutunya, Taliban, secara militer dan politik," ujar sang dubes, Husain Haqqani.

Laporan itu juga mengungkap sejumlah data, yakni, Taliban memiliki akses ke peluru kendali portable pencari-panas untuk penghancuran pesawat. Juga data tentang unit rahasia AS, gabungan pasukan AL dan AD Amerika Serikat, yang baru saja terlibat misi untuk menangkap atau membunuh tokoh-tokoh utama pemberontak.

Tak hanya itu, laporan juga mengungkap korban sipil masif yang tak dilaporkan, baik sebagai korban pengeboman Taliban atau misi NATO yang melenceng dalam operasi.

Meski dokumen tidak mengungkap temuan baru dramatis, mereka mengungkap betul bagaimana kesulitan yang dihadapi AS dalam perang ini serta jumlah korban sipil yang besar. Laporan itu menyatakan gambaran mengerikan tanpa ujung akhir tentang perang Afghan.

Dalam sebuah pernyataan, Penasehat Keamanan Nasional AS, Jenderal James Jones, mengatakan informasi rahasia macam itu "'dapat membuat hidup warga Amerika dan partnernya dalam risiko sekaligus mengancam keamanan nasional kita".

Ia mengatakan dokumen itu hanya meliputi periode dari 2004 hingga 2009, sebelum Presiden Obama mengumumkan strategi baru dengan peningkatkan sumber daya mendasar bagi kehidupan rakyat Afghanistan.

Namun ketua Komite Hubungan Luar Negeri, Senat AS, John Kerry, mengatakan, betapa pun ilegalnya dokumen-dokumen tersebut, mereka telah memunculkan banyak pertanyaan serius tentang kebijakan Amerika terhadap Pakistan dan Afghanistan. "Ini menunjukkan Kebijakan itu di ambang krisis dan dokumen-dokumen ini mungkin menggarisbawahi dengan baik apa yang dipertaruhkan dan membuat perhitungan yang dibutuhkan untuk kebijakan lebih mendesak," ujar senator asal Demokrat itu menegaskan.




Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu(QS.Al-Baqarah:45)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Keren, Ada Aplikasi untuk Mengatur Usaha Kecil Anda
NEW YORK -- Baru-baru ini, jaringan kedai kopi Starbucks mengklaim unggul dalam pembayaran lewat aplikasi ponsel dengan 7 juta transaksi seminggu. Tetapi UKM...