Friday, 30 Zulhijjah 1435 / 24 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kasus Suap MK Dinilai Rumit

Sunday, 12 December 2010, 05:34 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya harus bekerja lebih keras dalam menangani laporan dugaan kasus suap di Mahkamah Konstitusi (MK). Dugaan suap di MK ini bersifat cash and carry. Artinya, tidak ada bukti fisik dalam penyuapan itu. Oleh karenanya, KPK perlu upaya lebih untuk menggali pengakuan dari pihak terkait.

Hal tersebut disampaikan Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo, Sabtu (11/12). "Kalau suap tidak meninggalkan jejak, itu yang repot," kata Adnan menegaskan.

Dia mengatakan, KPK akan bekerja berdasarkan fakta dan bukti di lapangan. Menurut Adnan, kasus dugaan suap ini seharusnya sejak awal dilaporkan kepada KPK.

Seperti diketahui, Ketua MK Mahfud MD melaporkan tiga orang yang diduga mengetahui percobaan penyuapan hakim MK kepada KPK pada Jumat (10/12). Salah satu yang dilaporkan itu adalah Refly Harun yang menjadi bagian Tim Investigasi.

Tim tersebut baru saja memberikan laporan investigasi suap di MK. Refly justru dilaporkan karena mengetahui penyuapan itu, justru tidak melaporkan ke KPK.

Terhadap kondisi ini, Adnan mengaku prihatin. Menurut dia, kasus laporan dugaan suap MK ke KPK ini sudah salah kaprah. Dia beralasan, MK dengan pihak yang menjadi whistle blower seharusnya tidak saling berhadapan.

Menurut Adnan, seorang whistle blower seharusnya mendapat perlindungan dari MK. "Kalau peniup peluit ini malah dilaporkan kan ini terbalik," ujar Adnan menjelaskan.

Dia menganggap, integritas MK sebagai lembaga hukum terhormat akan dipertaruhkan. MK seharusnya tidak tercoreng dengan kasus dugaan suap ini. Adnan berharap KPK bisa mendapat fakta dan alat bukti yang cukup untuk memecahkan kasus ini.

Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber : M Ikhsan Shiddieqy
"Orang munafik adalah orang yang banyak mencela, dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan saudaranya"((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
1 Muharram, Momentum Hijrah Secara Mental
JAKARTA -- Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1436 H tidak lepas dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa besar...