Rabu, 22 Zulqaidah 1435 / 17 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Waspadai Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

Rabu, 22 Desember 2010, 22:33 WIB
Komentar : 0
Demo massa Hizbut Tahrir Indonesia, ilustrasi
Demo massa Hizbut Tahrir Indonesia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyerukan agar kaum perempuan mewaspadai program pemberdayaan ekonomi perempuan. Mereka mengemukakan hal itu dalam aksi demonstrasi yang digelar di depan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta, Rabu.

Dalam aksi yang melibatkan massa dari wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan Bekasi itu, Muslimah Hizbut Tahrir menegaskan bahwa perempuan tidak boleh dijadikan kepala keluarga atau tulang punggung perekonomian rumah tangga.

"Perempuan seharusnya fokus pada peran sebagai ibu yang mendidik generasi bangsa bukannya sebagai kepala keluarga yang disebabkan tanggung jawab ekonomi," tegas Iffah Ainur Rochmah juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

Iffah juga menambahkan bahwa pergeseran peran perempuan itu disebabkan terutama oleh paham kapitalisme yang dianggapnya diterapkan di Indonesia.

"Program pemberdayaan perempuan ke sektor publik yang kemudian bermuara pada oritentasi ekonomi merupakan akibat dari penerapan sistem kapitalisme Indonesia," tutur perempuan asal Bogor itu. Kapitalisme menurut Iffah adalah yang paling bertanggung jawab atas terpeliharanya kemiskinan.

Dia mengemukakan, kapitalisme secara nyata menunjukkan perlakukan keji terhadap perempuan karena menilai perempuan sebagai komoditi yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Kapitalisme juga mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa hanya dari kontribusi materi.

Redaktur : Stevy Maradona
Sumber : Antara
Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.(QS Al-Baqarah: 42)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Atasi Masalah Grafiti, ini Cara Kreatif Washington DC
WASHINGTON --  Kota besar seperti ibukota Amerika Serikat, Washington DC, juga menghadapi masalah graffiti karena semakin banyaknya dinding gedung dan tempat umum yang...