Ahad, 19 Desember 2010, 10:06 WIB

Duet Bayer-BASF Lahirkan Bibit Padi Rekayasa Genetika

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN--Raksasa kimia Jerman, Bayer dan BASF, pekan ini mengumumkan kolaborasi untuk memproduksi bibit padi hasil rekayasa genetika. Secara teknologi, mereka mengklaim produk akan mendongkrak panen dan keuntungan namun, para pakar dan penggiat lingkungan mengkritik keras proyek tersebut.

Kedua perusahaan mengatakan tujua mereka mengembangkan dan menjual bibit padi dengan perubahan genetis ialah untuk meningkatkan marjin keuntungan saat panen hingga 10 persen bila dibanding bibit biasa. Produk pertama direncanakan dilepas ke pasar pada 2020.

Beras adalah produk panen terbesar di dunia. Setengah dari populasi dunia sebesar 6,8 milyar mengonsumsi beras dalam bentuk nasi paling sedikit sekali dalam sehari.

Menurut data dari Institu Riset Padi Internasional (IRRI), saat ini dibutuhkan tambahan 8-10 juta ton beras untuk diproduksi tiap tahun serta menjaga harga bulirnya terjangkau untuk dikonsumsi, ungkap BASF dan Bayer.

Kini, produksi global beras tahunan berkisar 685 juta ton. Bagi sejumlah perusahaan, tumbuhan lewat rekayasa genetika di mana ilmuwan menciptakan jenis baru secara tidak alami melainkan mengubah gen, adalah jawaban demi memenuhi kebutuhan pakan dunia dengan populasi meningkat cepat.

Namun penentang gagasan ini mengatakan organisme yang mengalami perubahan genetika dapat menyebar dan melakukan ovulasi dengan tumbuhan lain. Saat kemungkinan itu besar terjadi, konsekuensinya masih belum diketahui.

Oposan juga mengatakan, produk-produk macam itu akan meningkatkan kontrol perusahaan swasta atas pertanian. Saat ini 10 korporat telah menguasai hampir 70 persen pasar bibit dunia, demikian menurut organisasi lingkungan, Greenpeace.

Sumber : AFP