Kamis, 17 Jumadil Akhir 1435 / 17 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kelapa Sawit Bisa Menjadi Lumbung Devisa Indonesia

Selasa, 21 September 2010, 08:51 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR--Pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor Prof Dr Erliza Hambali MSi mengatakan kelapa sawit bisa menjadi salah satu lumbung devisa Indonesia. "Kelapa sawit merupakan penggerak perekonomian Indonesia sekaligus lumbung devisa nasional," kata Erliza Hambali di Bogor Senin.

Tentang kelapa sawit itu adalah makalah yang disampaikannya pada orasi ilmiah di hadapan senat akademik IPB di kampus IPB Darmaga Bogor, Sabtu, yang menghantarkannya menjadi guru besar tetap Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB.
Erliza menyampaikan orasi ilmiah dengan tema "Peran Teknologi Proses Agroindustri dalam Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit."

Ia menyampaikan orasi ilmiah bersama dengan dua guru besar lain yaitu Prof Dr Sumardjo MS sebagai guru besar tetap Fakultas Ekologi Manusia serta Prof Dr Ary Purbayanto MSc sebagai guru besar tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Menurut Prof Erliza Hambali, industri kelapa sawit dapat diandalkan sebagai penggerak perekonomian nasional dan mampu menghasilkan devisa dalam jumlah besar.

Merujuk pada data yang dikeluarkan Kadin, proteksi devisa nasional 2010 dari industri CPO mencapai 14 miliar dolar AS.
Prof Erliza mengemukakan, pendapatan devisa dari CPO sebesar 14 miliar dolar AS dapat ditingkatkan lagi melalui pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS).

Dengan pengembangan IHKS, nilai tambah produk kelapa sawit di Indonesia dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya baik untuk peningkatan devisa negara maupun kesejahteraan masyarakat. Dikatakannya, hingga kini Indonesia merupakan negara produser CPO terbesar di dunia. Predikat sebagai produser CPO terbesar dunia telah disandang Indonesia sejak 2006.

Menurut dia, keunggulan yang dimiliki Indonesia di sub sektor kelapa sawit perlu terus dipertahankan dan dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia meyakini pengembangan IHKS dapat menjadi kunci penting dalam perekonomian nasional ke depan, khususnya untuk penyedia kebutuhan pokok masyarakat dan bahan baku industri, penghasil devisa, penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah kelapa sawit serta peningkatan ketahanan pangan dan energi nasional.

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:107))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  ahmad Minggu, 21 November 2010, 11:07
orasi ilmiah tsb.semoga kemenhut lebih rasional menetapkan kawasan budi daya non kehutanan.jangan terjadi seperti di Kaltim sudah jelas sudah tidak ada hutannya lagi,dijadikan hutan lindung untuk budidaya kehutanan.masyarakat jadi curiga ini ulah negara maju mengatur indonesia supaya tetap menjadi hutan tropis dunia
  saparuddin Sabtu, 25 September 2010, 17:00
iy,sgt bgus klw swit dkmbagkan agr masrkt kecil.gigh tuk mennm swit tuk mngurngi pola kemiskinan,penganguran
  Rara Selasa, 21 September 2010, 17:10
Kayaknya gak perlu orasi ilmiah deh untuk tahu hal itu. Yang perlu lebih dikaji adalah, bagaimana supaya kelapa sawit bisa digiatkan tanpa harus menggunduli hutan tropis, atau harusnya bisa dikembangkan di lahan kritis. Itu baru orasi taraf professor dari sebuah institusi pertanian.
  budi Selasa, 21 September 2010, 05:07
sayangnya perkebunan sudah dikuasai pemakan daging bb