Rabu, 28 Zulhijjah 1435 / 22 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Perombakan PEB Lacak Devisa Ekspor

Jumat, 03 September 2010, 01:07 WIB
Komentar : 0
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Perombakan 17 dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB) ditargetkan dapat selesai sebelum Oktober ini. Salah satu item perombakan yakni dengan memasukan kolom pembayaran secara lebih terperinci dalam dokumen tersebut.

Hal itu diharapkan dapat melacak devisa ekspor yang diparkir diluar negeri dan mencegah terjadinya upaya tranfer pricing. Demikian disampaikan oleh Ketua Pelaksana Harian Tim National Single Window (NSW) Eddy Putra Irawady, ketika dihubungi Republika, Kamis (2/9). ''Kita akan lacak devisa dan indikasi //tranfer pricing dengan konsep kepabeanan ini,'' ujarnya.

Menurutnya pada kolom pembayaran itu mereka menuliskan nilai transaksi dan barang yang diekspor. Ini akan langsung terhubung secara on line dengan Bank Indonesia dan Direktorat Pajak. Sehingga eksportir tidak bisa memanipulasi dokumennya untuk mengeruk keuntungan. ''Jadi ini sifatnya wajib mereka harus mengisi kolom isian itu dengan benar,'' jelasnya yang juga menjabat sebagai Deputi Koordinasi Bidang Perindustrian dan Perdagangan Kementrian Perekonomian itu.

Bagaimana jika berbohong saat pengisian data? Edy mengatakan mereka (eksportir) akan sulit melakukannya. Pasalnya, kata dia, bea cukai memiliki prosedur tersendiri dalam menilai secara wajar antara barang yang diekspor dan harga yang tercantum pada dokumen tersebut. ''Ada 8 indikator kewajaran untuk menilai transaksi itu,'' terangnya.

Menurutnya, pengecekan nilai kewajaran ini hanya merupakan langkah awal. Ketika barang tersebut sudah dikatakan wajar maka langsung terekam di data Bank Indonesia. Berapa sekiranya devisa yang dihasilkan dari transaksi itu. Setelah itu, Ditjen Pajak dapat memperkirakan berapa penarikan pajak yang diperoleh. ''Jika yang masuk seharusnya misalkan nilainya 100, tapi angka pajaknya sangat kecil maka kemungkinan telah terjadi transfer pricing,'' katanya.

Reporter : Teguh Fimansyah
Redaktur : Budi Raharjo
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS:Al Baqarah 197)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jika Diperlukan Dalam Kabinet Jokowi, Ini Sikap Muhammadiyah
JAKARTA --  Ketua Umum Muhammadiyah mengharapkan presiden Joko Widodo dan kabinetnya bisa menjalankan amanah dan tunaikan janji yang disampaikan pada kampanye lalu. Untuk siapa...